<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		http://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-04-04T22:01:39Z</responseDate>
	<request metadataPrefix="oai_dc" verb="ListRecords">https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/4</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:15:58Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Permasalahan Pertanahan pada Daerah Berkepadatan Penduduk Rendah</dc:title>
	<dc:creator>Nur Amrin, Reza</dc:creator>
	<dc:creator>Muttaqy Zaen, Haidar </dc:creator>
	<dc:creator>Prayoga Dwi Nugraha, Muhammad </dc:creator>
	<dc:creator>Putra, Prihariyanda </dc:creator>
	<dc:creator> Izza Zaini, Rifqian</dc:creator>
	<dc:creator>Rainata Sangkay, Yehuda </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">low population density</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land problems</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">maximum excess land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reza Nur Amrin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Haidar Muttaqy Zaen</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Muhammad Prayoga Dwi Nugraha</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Prihariyanda Putra</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Rifqian Izza Zaini</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Yehuda Rainata Sangkay</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The results of the Population Census 2020 show that there is an uneven distribution of the population in Indonesia. This raises a different typology of land problems between high population and low population density areas. A small population with a large area can cause problems with the amount of land that is not properly managed. This paper aims to examine land problems from one of the conditions in the area, that is an area with a low population density. The research data comes from online and offline sources regarding population and land. Literature study with qualitative descriptive analysis is used in analyzing land problems. Land problems that can occur in areas with low population density, namely: the existence of maximum excess land area and ownership of the number of lands that exceed the provisions, potential problems in implementing transmigration, and low community interest in the land registration program. Alternative solutions that can be offered include increasing public trust in state administrators, namely by improving the quality of pre-land registration socialization, the performance of land registration services, and empowerment for the community after land registration.Keywords: low population density, land problems, maximum excess land
Intisari: Hasil dari Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa terdapat persebaran penduduk yang tidak merata di wilayah Indonesia. Hal tersebut menimbulkan tipologi permasalahan pertanahan yang berbeda antara wilayah berkepadatan penduduk tinggi dengan berkepadatan penduduk . Penduduk yang sedikit dengan luas wilayah yang besar dapat menimbulkan permasalahan banyaknya tanah yang tidak terurus dengan baik. Tulisan ini bertujuan mengkaji permasalahan pertanahan pada wilayah dengan kepadatan penduduk rendah. Data penelitian berasal dari sumber online dan offline mengenai kependudukan dan pertanahan. Studi literatur dengan analisis deskriptif kualitatif digunakan dalam menganalisis permasalahan pertanahan. Permasalahan pertanahan yang bisa terjadi pada daerah kepadatan penduduk yang rendah, yaitu: adanya tanah kelebihan luas maksimum dan kepemilikan jumlah bidang tanah yang melebihi ketentuan, masalah pelaksanaan transmigrasi, dan minat masyarakat yang rendah pada program pendaftaran tanah. Alternatif solusi yang dapat ditawarkan antara lain adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara yakni dengan cara meningkatkan kualitas sosialisasi pra pendaftaran tanah, kinerja pelayanan pendaftaran tanah, pemberdayaan bagi masyarakat pasca pendaftaran tanah.Kata Kunci: kepadatan penduduk rendah, permasalahan pertanahan, tanah kelebihan maksimum</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/4</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.4</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 1-12</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/4/1</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Reza Nur Amrin, Haidar Muttaqy Zaen, Muhammad Prayoga Dwi Nugraha, Prihariyanda Putra, Rifqian Izza Zaini, Yehuda Rainata Sangkay</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/5</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T07:46:17Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Yuridis Kekuatan Hukum Sertipikat Tanah Elektronik  Dalam Pembuktian Hukum Acara Perdata </dc:title>
	<dc:creator>Khasanah, Dian Dewi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Electronic Land Certificate, Evidence, Civil Procedure Law.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The role of electronic evidence, namely electronic certificates as part of electronic documents in civil cases, is still questionable. The presence of the Electronic Information and Transactions Law, which is the legal umbrella for the validity of electronic certificates, apparently still raises pros and cons, even in the eyes of law enforcers, therefore more specific regulations are needed so that the validity and strength of proof of electronic certificates are no longer questioned in court proceedings, especially civil cases. Electronic certificate or also known as electronic land certificate as one of the products from The Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency which is currently being discussed will implement a media transfer process from analog to digital form. For this reason, it is necessary to prepare further regarding regulations to regulate how the later position and strength of evidence from electronic land certificates in Civil Procedure Law as an extension of evidence in civil cases. The method used in writing this scientific paper is legal research with the socio-legal method, namely by normatively examining the regulations regarding the Information dan Electronic Transaction of law in which have been used in civil proceedings in court and by looking at the existing norms and responses that are developing in the community. In the provisions of Article 6 of the Electronic Information and Transactions Law, an electronic document is considered valid if it is accessible, displayable, assured as to its integrity, and accountable. However, because it does not have perfect evidentiary power, it is necessary to accelerate the discussion of the Draft Civil Procedure Law, so that electronic land certificates as part of electronic documents have perfect evidentiary power in court, especially in civil cases.Keywords: Electronic Land Certificate, Evidence, Civil Procedure Law
Intisari: Peran alat bukti elektronik yaitu sertipikat elektronik sebagai bagian dari dokumen elektronik dalam perkara perdata sampai saat ini masih dipertanyakan keabsahannya. Kehadiran UU ITE yang menjadi payung hukum dari keabsahan sertipikat elektronik rupanya masih menimbulkan pro dan kontra, bah­kan di mata penegak hukum, oleh karenanya dibutuhkan regulasi yang lebih spesifik agar keab­sahan dan kekuatan pembuktian dari sertipikat elektronik tidak lagi dipertanyakan dalam beracara di pengadilan khususnya perkara perdata. Sertipikat elektronik atau dapat juga disebut sertipikat tanah elektronik sebagai salah satu produk dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) yang saat ini sedang diwacanakan akan diberlakukan atau akan dilaksanakan proses alih media dari bentuk analog ke bentuk digital. Untuk itu perlu dipersiapkan lebih lanjut menge­nai regulasi untuk mengatur bagaimana nantinya kedudukan dan kekuatan pembuktian dari sertipikat tanah elektronik dalam Hukum Acara Perdata sebagai perluasan alat bukti pada perkara perdata. Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah penelitian hukum dengan metode sosio legal, yaitu dengan mengkaji secara yuridis normatif berbagai ketentuan perundang-undangan dan pengaturan mengenai dokumen elektronik yang selama ini dapat digunakan dalam beracara secara perdata di pengadilan serta dengan melihat norma dan respon yang ada dan berkem­bang di tengah masyarakat. Dalam ketentuan Pasal 6 UU ITE, suatu dokumen elektronik dianggap sah apabila dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun karena belum memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna, maka perlu segera dipercepat pemba­hasan mengenai Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Perdata, agar sertipikat tanah elektronik sebagai bagian dari dokumen elektronik memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna di muka pengadilan khususnya perkara perdata.Kata Kunci: Sertipikat Tanah Elektronik, Pembuktian, Hukum Acara Perdata</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/5</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.5</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 13-24</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/5/2</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Dian Dewi Khasanah</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/7</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T07:45:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Problematika Reforma Agraria pada Tanah Redistribusi Bekas HGU Tratak, Batang</dc:title>
	<dc:creator>Widarbo, Koes</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">agrarian reform</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">former HGU Tratak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">illegal housing</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">reforma agraria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">redistribusi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">bekas HGU</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The redistribution of land as a means of agrarian reform in Trumben Village, Bandar District, Batang, Central Java Province comes from the former HGU No.1 Tratak.  The former HGU was successfully processed into State General Reserves Land (TCUN), then became Landreform Object Land covering an area of  ?79.8410 hectare since December 11th, 2015. The object was given to 425 heads of farmer families who had been working on the land. Each farmer receives one plot of land and cannot be transferred without hot official permits. Post-land redistribution, since 2018 the construction of Study Education Outside the Main Campus (PSDKU) UNDIP has begun. In line with this, problems arise, including the transfer of redistribution land ownership to external parties without permission, and the existence of agricultural land parcels for residential houses in the redistribution area. The purpose of this research is to see whether the UNDIP campus construction occurs in the rules of land redistribution transfer and how the alternative solutions to the existing problems. This study used an empirical juridical method with qualitative descriptive data analysis. The conclusion of this research is that the PSDKU development has an impact on the transfer of ownership and changes in the use of agricultural land to non-agricultural.Keywords: agrarian reform, former HGU Tratak, illegal housing
Intisari: Redistribusi tanah sebagai salah satu wujud penyelenggaraan  reforma agraria di Desa Trumben, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah berasal dari bekas HGU No. 1 Tratak. Bekas HGU tersebut kemudian diproses  menjadi Tanah Cadangan Umum Negara (TCUN), dan selanjutnya ditetapkan menjadi Obyek Landreform seluas 79,8410 hektar sejak Tanggal 11 Desember 2015. Objek tersebut diberikan kepada 425 kepala keluarga petani yang selama ini menggarap tanah tersebut. Masing-masing petani menerima satu bidang tanah Hak Milik (HM) dan tidak boleh dialihkan tanpa izin pejabat yang berwenang. Pasca redistribusi tanah tersebut, sejak tahun 2018 telah dimulai pembangunan Pendidikan Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) UNDIP.  Sejalan dengan hal tersebut timbul permasalahan, antara lain adanya peralihan kepemilikan tanah redistribusi kepada pihak eksternal tanpa izin, serta adanya pengkaplingan tanah pertanian untuk rumah tinggal dalam area redistribusi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembangunan kampus UNDIP mengakibatkan terjadinya pelanggaran terhadap aturan peralihan tanah redistribusi tersebut serta bagaimana alternatif solusi dari permasalahan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan yuridis empiris. Kesimpulan  dari penelitian ini adalah pembangunan PSDKU berdampak pada peralihan kepemilikan dan perubahan penggunaan tanah pertanian menjadi non pertanian.Kata Kunci; Reforma Agraria, Bekas HGU Tratak, dan perumahan illegal</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/7</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.7</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 25-38</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/7/3</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Koes Widarbo</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/8</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:14:34Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kesesuaian Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah Bendungan Karian dengan UU Pengadaan Tanah di Kabupaten Lebak</dc:title>
	<dc:creator>Yudhanto, Febri</dc:creator>
	<dc:creator>Katon Prasetyo, Priyo </dc:creator>
	<dc:creator>Sudibyanung, Sudibyanung</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Acquisition</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Conformity</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Dams</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Evaluations.</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pengadaan tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">kesesuaian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">bendungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">evaluasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Land Acquisition  Law Article 15 Paragraph (1) of Law Number 2 of 2012 concerning Land Acquisition  for  Development in  the  Public  Interest  regulates  the  Land  Acquisition  Planning Document (DPPT) which at least contains the purpose and objectives of the development plan, conformity with the the spatial plan and National and Regional Development Plans, land layout, land area needed, general description of land status, estimated time of land acquisition, estimated time of construction, estimated land value and budgeting plan. DPPT documents became the basic of Land  Acquisition for location determination and anvancing process. Karian Land Aqcuisition is taken as an case study in this research. Karian Dam whose land acquisition began in 2007, until 2020 land acquisition has not yet been completed. Government regulations Number 37 Year 2010 regulating about dams will also be used as material for evaluations. DPPT Karian Dam was compiled in 2016. The purpose of this study was to evaluate the suitability of the 2016 Karian Dam (DPPT) with 73 Criteria for Land Acquisition and  Government Regulations. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach. The results of this study 14 criteria are suitable and 59 criteria are not suitable. With dominant points that are not appropriate, namely: (a) General Description of Land Status, (b) Estimated Time of Land Acquisition, (c) Estimated Time of Development Implementation; (d) Estimated Land Value, (e) Budgeting Plan.Keywords: Land Acquisition, Conformity, Dams, Evaluations.
Intisari: Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum mengatur tentang Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) yang paling sedikit memuat maksud dan tujuan rencana pembangunan, kesesuaian dengan RTRW dan Rencana Pembangunan Nasional dan Daerah, letak tanah, luas tanah yang dibutuhkan, gambaran umum status tanah, perkiraan waktu pelaksanaan pengadaan tanah, perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan, perkiraan nilai tanah dan rencana penganggaran. DPPT tersebut yang akan menjadi dasar bagi pelaksanaan Penetapan Lokasi dan proses lanjutan pengadaan tanah. Sebagai studi kasus maka diambil pelaksanaan pengadaan tanah Bendungan Karian. Bendungan Karian yang pengadaan tanahnya dimulai dari tahun 2007, sampai dengan tahun 2020 belum dapat diselesaikan pengadaan tanahnya. PP Nomor 37 Tahun 2010 mengatur tentang Bendungan akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan evaluasi. DPPT Bendungan Karian disusun pada tahun 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi Kesesuaian DPPT Bendungan Karian Tahun 2016 dengan 73 Kriteria Peraturan Perundang- Undangan Pengadaan Tanah dan PP tentang Bendungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan dekriptif. Hasil dari penelitian ini 14 kriteria sesuai dan 59 kriteria tidak sesuai. Dengan poin dominan yang tidak sesuai yaitu: (a) Gambaran Umum Status Tanah, (b) Perkiraan Waktu Pelaksanaan Pengadaan Tanah, (c) Perkiraan Waktu Pelaksanaan Pembangunan; (d) Perkiraan Nilai Tanah, (e) Rencana Penganggaran.Kata Kunci: Pengadaan Tanah, Kesesuaian, Bendungan, Evaluasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/8</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.8</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 39-57</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/8/4</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Febri Yudhanto, Priyo Katon Prasetyo, Sudibyanung</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/9</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:13:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Keterbukaan Informasi Publik Data Pertanahan </dc:title>
	<dc:creator>Rahmanto, Nur</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">public information disclosure</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">data sharing</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land data</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Keterbukaan Informasi Publik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Data Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">In essence, every citizen has the right to know about all activities or policies carried out by public officials, this is in addition to the right to obtain information, it is a human right as well as a means of public control over government administration, but the right to obtain this information is often There are obstacles both in terms of regulations and unsupportive behavior of public officials. Law Number 14 of 2008 (UU KIP) which regulates the issue of public information disclosure in its implementation conflicts with Permenagraria / Ka BPN Number 3 of 1997, in which the regulation of the Minister of State for Agrarian Affairs regulates restrictions on restrictions in providing information on land data which are often inconsistent with with the regulation of public information disclosure regulated in the KIP Law, so that the public does not immediately get information on land data which in turn will lead to a lawsuit from the public to the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning / BPN at the Information Commission and State Administrative Court. By using the desk study method, this paper will examine the information disclosure arrangements stipulated in the two regulations referred to as well as the conflicts that occur both in the articles of the contents of the regulations and in their implementation practices so that solutions or recommendations will be obtained so that public information disclosure can run properly in Indonesia country.Keywords: public information disclosure, data sharing, land data .
Intisari: Setiap warga masyarakat pada hahekatnya adalah berhak untuk tahu mengenai semua kegiatan atau kebijakan yang dilakukan oleh pejabat publik, hal ini selain hak untuk memperoleh informasi itu adalah hak asasi setiap manusia juga sebagai sarana kontrol publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan, akan tetapi hak untuk memperoleh informasi ini sering ada kendala baik dari sisi regulasi maupun perilaku petugas publik yang tidak mendukung. Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 (UU KIP) yang mengatur masalah keterbukaan informasi publik dalam pelaksanannya berbenturan dengan Permenagraria/Ka BPN Nomor 3 Tahun 1997, dimana di dalam peraturan Menteri Negara Agraria dimaksud diatur mengenai pembatasan pembatasan dalam memberikan informasi data pertanahan yang seringkali tidak sejalan dengan pengaturan keterbukaan informasi publik yang diatur di dalam UU KIP, sehingga masyarakat tidak serta merta bisa mendapatkan informasi data pertanahan yang pada akhirnya akan memunculkan gugatan dari masyarakat kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN di Komisi Informasi  dan Pengadilan Tata Usaha Negara. Dengan menggunakan methode desk study tulisan ini akan mengkaji pengaturan keterbukaan informasi yang diatur di dalam kedua peraturan dimaksud serta pertentangan yang terjadi baik di dalam pasal pasal isi peraturan maupun di dalam praktek pelaksanaannya untuk selanjutnya akan diperoleh solusi atau rekomendasi sehingga keterbukaan informasi publik dapat berjalan dengan baik di Negara Indonesia.Kata Kunci: keterbukaan informasi publik, berbagi data, data pertanahan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/9</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.9</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 58-64</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/9/5</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Nur Rahmanto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/10</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:13:01Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Peran GTRA dalam Pelaksanaan Reforma Agraria di Kabupaten Lampung Tengah</dc:title>
	<dc:creator>Trinanda Putra, Zahril </dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Aristiono </dc:creator>
	<dc:creator>Nashih Luthfi , Ahmad </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">-</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The implementation of agrarian reform to date has not been maximized due to the existence of sectoral egos and lack of coordination between related sectors / ministries. The institutional formation of the GTRA is expected to be able to unite across sectors of the relevant ministries / institutions. In Central Lampung Regency there are many land issues on HGU land and transmigration land which will later become the priority location of the Agrarian Reform Land (TORA). The Central Lampung BPN target in 2020 as many as 3,000 plots of land will be distributed to the public. It is hoped that the existence of GTRA can support the achievement of these targets. This study aims to determine the role of GTRA, obstacles and how to overcome obstacles in implementing agrarian reform in Central Lampung Regency. The research method used is qualitative with a descriptive approach. The results showed that budget limitations and the existence of an institutional sectoral ego led to impeded implementation of asset management and access structuring. A strong commitment from all GTRA implementers is needed in carrying out all agrarian reform programs. If not, the GTRA will be the same as the previous institution which only changed its name.Keywords: Agrarian Reform, GTRA, TORA
Intisari: Pelaksanaan reforma agraria sampai saat ini belum maksimal dikarenakan adanya ego sektoral dan kurangnya koordinasi antara lintas sektor kementerian/lembaga terkait. Pembentukan kelembagaan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) diharapkan mampu menyatukan lintas sektor kementerian/lembaga terkait. Di Kabupaten Lampung Tengah terdapat banyak permasalahan tanah pada tanah HGU dan tanah transmigrasi yang nantinya dijadikan lokasi prioritas Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Target BPN Kabupaten Lampung Tengah tahun 2020 sebanyak 3.000 bidang tanah akan direditribusikan ke masyarakat. Harapannya dengan adanya GTRA dapat mendukung capaian target tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran GTRA, kendala dan cara mengatasi kendala dalam pelaksanaan reforma agraria di Kabupaten Lampung Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterbatasan anggaran dan adanya ego sektoral kelembagaan menyebabkan terhambatnya pelaksanaan penataan aset dan penataan akses. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh pelaksana GTRA dalam menjalankan seluruh program reforma agraria. Jika tidak maka GTRA akan sama saja dengan kelembagaan sebelumnya yang hanya berganti nama.Kata Kunci: Reforma Agraria, GTRA, TORA</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-06-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/10</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i1.10</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 1 (2021): Widya Bhumi; 65-85</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/10/6</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Zahril Trinanda Putra, Aristiono Nugroho, Ahmad Nashih Luthfi</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/11</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:20:08Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kualitas Data Pertanahan Menuju Pelayanan Sertifikat Tanah Elektronik</dc:title>
	<dc:creator>Suhattanto, Muh Arif </dc:creator>
	<dc:creator>Sarjita, Sarjita</dc:creator>
	<dc:creator>Sukayadi, Sukayadi</dc:creator>
	<dc:creator>Mujiburohman, Dian Aries</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Data Spasial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kualitas Data Pertanahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sertifikat Tanah Elektronik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agraria dan Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRACT
The quality of land data is a very important part to prepare for the implementation of electronic land certificates, so the purpose of this study is to analyze the quality of land data, especially at the Semarang Regency Land Office. This study uses a qualitative descriptive method to see the precision of spatial data so that the data can be categorized as valid data. The results showed that the criteria for valid land parcel data were fulfilling the aspects of the correctness of the location, shape, area and numbering standards, but there were still land parcels with valid status in the Computerized Land Activities (KKP) application that did not meet the criteria set out in the Technical Guidelines. Thus, it will affect the implementation of electronic land certificates, because between the quality of data and the implementation of electronic land certificates is a unity, good land data will produce quality electronic land certificates that can provide a sense of security and legal certainty and are not easily sued, because the resulting land data from transfer of media as electronic documents.
Keywords : Land Data Quality, Electronic Land Certificate, Spatial Data
 
INTISARI
Kualitas data pertanahan merupakan bagian yang sangat penting untuk mempersiapkan pelaksanaan sertifikat tanah elektronik, maka tujuan penelitian ini adalah hendak menganalisis kualitas data pertanahan, khususnya di Kantor Pertanahan kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melihat presisi data spasial sehingga data dapat dikategorikan sebagai data yang valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria data bidang tanah yang valid yaitu memenuhi aspek kebenaran letak, bentuk, luas dan standar penomoran, namun masih terdapat bidang-bidang tanah yang berstatus valid di aplikasi Komputerisasi Kegiatan Pertanahan (KKP) belum sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Juknis. Dengan demikian akan berpengaruh pada pelaksanaan sertifikat tanah elektronik, karena antara kualitas data dan pelaksanaan sertifikat tanah elektronik merupakan satu kesatuan, data pertanahan yang baik akan menghasilkan kualitas sertifikat tanah elektronik yang dapat memberikan rasa aman dan berkepastian hukum serta tidak mudah digugat, karena data pertanahan hasil dari alih media sebagai dokumen elektronik.
Kata kunci : Kualitas Data Pertanahan, Sertifikat Tanah Elektronik, Data Spasial</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-12-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/11</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i2.11</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi; 87-100</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/11/7</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Muh Arif Suhattanto, Sarjita, Sukayadi, Dian Aries Mujiburohman</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/12</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:19:07Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Menuju Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial di Banyuwangi, Jawa Timur : (Sebuah Telaah Spasial dan Tematik) </dc:title>
	<dc:creator>Khanifa, Tiara Nur</dc:creator>
	<dc:creator>Syanurisma, Syarli </dc:creator>
	<dc:creator>Luthfi, Ahmad Nashih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">PPTKH, RAPS, Spatial Approach, Satellite Imagery</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">UPAYA PENYELESAIAN PENGUASAAN TANAH KAWASAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SPASIAL MENUJU REFORMA AGRARIA DAN PERHUTANAN SOSIAL</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRACT
This research is an effort to resolve the conflicts of forest tenurial (PPTKH) which is carried out with a spatial approach and thematic to provide recommendations for Agrarian Reform and Social Forestry (RAPS) policies. The spatial approach is carried out by satellite images processing with a 20-year period, which are taken in 2019 and 1999. The thematic approach is carried out by conducting the Identification of Land Tenure, Ownership, Utilization and Use. The results of the identification in the location of tenurial forest by the community with utilizing the SPOT 7 imagery for 2019, there are the 120,40 hectares area of Kedungasri Village that have been occupied by the community but claimed as Perum Perhutani forest area. The thematic study also confirms that land tenure has been carried out since the Japanese period. Of the 120.40 hectares area, there are 50.80 hectares or about 42% was directed towards agrarian reform policies through by Forest Area Swap (TMKH). The location that will be proposed for RAPS have land uses in the form of agriculture and settlements. At the provincial level, this study also found that the forest area in East Java is more than 30% of the total area of the province. The possibility of agrarian reform policies in Java is very open. It is not appropriate if Java has been exempted from agrarian reform policies.
Keywords : PPTKH, RAPS, Spatial Approach, IP4T, 30% forest area
 
INTISARI
Penelitian ini sebagai upaya Penyelesaian Penguasaan Tanah Kawasan Hutan (PPTKH) yang dilakukan dengan pendekatan spasial dan tematik untuk memberikan rekomendasi kebijakan Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS). Pendekatan spasial dilakukan dengan cara melakukan pengolahan citra satelit dengan tempo 20 tahun, yaitu citra satelit yang diambil pada tahun 2019 dan tahun 1999. Pendekatan tematik dilakukan dengan cara melakukan Identifikasi Penguasaan, Pemilikan, Pemanfaatan dan Penggunaan Tanah (IP4T). Hasil identifikasi lokasi penguasaan tanah kawasan hutan oleh masyarakat dengan memanfaatkan citra SPOT 7 tahun 2019 yaitu di wilayah Desa Kedungasri terdapat penguasaan tanah kawasan hutan oleh masyarakat namun diklaim sebagai kawasan hutan Perum Perhutani seluas 120,40 ha. Dari telaah tematik juga memperkuat bahwa penguasaan tanah telah dilakukan sejak masa Jepang. Dari luasan 120,40 ha tersebut, seluas 50,80 ha atau sekitar 42% diarahkan untuk kebijakan reforma agraria melalui Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH). Pada level propinsi, penelitian ini juga menemukan bahwa luas kawasan hutan di Jawa Timur lebih dari 30% dari total luas propinsi sehingga terbuka besar kemungkinan kebijakan reforma agraria di Jawa yang selama ini mendapatkan pengecualian.
Kata kunci : PPTKH, RAPS, Pendekatan Spasial, IP4T, 30% kawasan hutan</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-12-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/12</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i2.12</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi; 101-124</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/12/8</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Tiara Nur Khanifa, Syarli Syanurisma, Ahmad Nashih Luthfi</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/13</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:05:12Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perjanjian Kerja Sama Upaya Percepatan Pensertipikatan Tanah-tanah Milik PT. PLN</dc:title>
	<dc:creator>Sugiasih, Sugiasih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Cooperation Agreement, Land Certificate Constraints, PLN</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kensertipikatan Tanah Milik BUMN</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRACT
The constraints faced by PLN related to land can be seen from the amount of land owned by PLN that has only reached 30% certificate and about 57,000 plots of land owned by PLN have not been certified. This is due to the irregular land asset management. Such conditions can increase the risk of land disputes.The acceleration of PLN land certificates is carried out through a Memorandum of Understanding between the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/BPN and PT. PLN. This paper describes the implementation of the memorandum of understanding as well as the obstacles and solutions to the problem of PLN land that is not clean and clear. The research method used is a qualitative method which emphasizes the observation of phenomena and their substance. As a result, it is known that PLN lands which are physically and legally clear and are not in dispute can be certified immediately. Some of PLN's lands experienced problems in making their certificates, namely physical and juridical constraints. Although there are obstacles, it is undeniable that the Cooperation Agreement between the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/BPN and PLN brings great benefits, namely that many lands belonging to PLN have been and are in the process of being certified.
Keywords : Cooperation Agreement, Land Certificate Constraints, PLN
 
INTISARI
Kendala yang dihadapi PLN berkaitan dengan tanah terlihat dari jumlah tanah milik PLN yang sudah bersertipikat baru mencapai 30% dan sekitar 57.000 bidang tanah milik PLN belum bersertipikat. Hal ini disebabkan oleh tidak tertibnya tata kelola aset tanah. Kondisi demikian dapat meningkatkan resiko terjadinya sengketa tanah. Percepatan pensertipikatan tanah PLN dilaksanakan melalui Nota Kesepahaman antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN dan PT. PLN. Dalam tulisan ini mengurai pelaksanaan nota kesepahaman tersebut serta kendala dan solusi untuk permasalahan tanah PLN yang tidak clean and clear. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan substansinya. Hasilnya diketahui bahwa untuk tanah-tanah PLN yang secara fisik dan yuridisnya sudah jelas dan tidak dalam sengketa dapat segera disertipikatkan. Sebagian tanah PLN mengalami kendala dalam pembuatan sertipikatnya, yaitu kendala fisik dan kendala yuridis. Meskipun terdapat kendala, tidak dipungkiri bahwa Perjanjian Kerjasama antara Kementerian Agraria dan tata Ruang/BPN dan PLN membawa manfaat yang besar, yaitu banyak tanah-tanah milik PLN yang sudah dan sedang dalam proses pensertipikatan.
Kata kunci : Perjanjian Kerja Sama, Kendala Pensertipikatan Tanah, PLN</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-12-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/13</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i2.13</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi; 125-135</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/13/9</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Sugiasih</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/14</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:18:08Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pelaksanaan Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik</dc:title>
	<dc:creator>Margaret, Agata Tri Putri </dc:creator>
	<dc:creator>Sapardiyono, Sapardiyono</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hak Tanggungan elektronik, PPAT, Bank</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">PELAKSANAAN LAYANAN HAK TANGGUNGAN TERINTEGRASI SECARA ELEKTRONIK</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRACT
The HT-el service has been implemented nationally since April 2020, which in its implementation involves other parties such as Land Deed Maker Officials and Creditors as working partners. The purpose of this study is to describe the service mechanism, problems, and efforts to resolve the HT-el service with a location at the Land Office of Tanjung Jabung Barat Regency. This study uses a qualitative method with a descriptive approach to be able to see and understand the real conditions of the object under study. The results of the study found that the HT-el service mechanism had not been fully implemented in accordance with applicable regulations, for example, the existence of an HT-el certificate that was issued without going through an inspection process, accounts run by non-account owners, payment of deposit orders made by the bank (creditor). Problems faced by PPAT, Creditors and Kantah such as: internet network disturbances, the uploaded application file is not appropriate, ranking errors because the validation has not been completely correct, the online checking process cannot be carried out because all land parcel certificates have not been validated, NIK of the debtor or the approval party does not match, the deed code is not found in the HT-el system. 
Keywords: Electronic Mortgage, PPAT, Bank
 
INTISARI
Layanan HT-el dilaksanakan secara nasional sejak bulan April 2020, yang dalam pelaksanaannya melibatkan pihak lain seperti Pejabat Pembuat Akta Tanah dan Kreditor sebagai mitra kerjanya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan mekanisme layanan, permasalahan dan upaya penyelesaian terhadap layanan HT-el dengan lokasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif agar dapat melihat dan memahami kondisi secara nyata terhadap objek yang diteliti. Hasil penelitian menemukan bahwa mekanisme layanan HT-el belum sepenuhnya dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya adanya sertipikat HT-el yang terbit tanpa melalui proses pemeriksaan, akun yang dijalankan oleh bukan pemilik akun, pembayaran Surat Perintah Setor dilakukan oleh pihak Bank (Kreditor). Permasalahan yang dihadapi oleh PPAT, Kreditor dan Kantah seperti: gangguan jaringan internet, berkas permohonan yang diunggah belum sesuai, kesalahan peringkat karena validasi yang dilakukan belum sepenuhnya benar datanya, proses pengecekan secara online tidak dapat dilakukan karena belum tervalidasinya seluruh sertipikat bidang tanah, NIK dari Debitor ataupun pihak persetujuan tidak sesuai, Kode akta tidak ditemukan pada sistem HT-el.
Kata Kunci: Hak Tanggungan elektronik, PPAT, Kreditor</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-12-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/14</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i2.14</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi; 136-148</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/14/10</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Agata Tri Putri Margaret, Sapardiyono</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/15</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:17:31Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Yuridis Akibat dari Musnahnya Obyek Jaminan yang Dilekati Hak Tanggungan Karena Bencana Alam</dc:title>
	<dc:creator>Khasanah, Dian Dewi</dc:creator>
	<dc:creator>Alfons, Alfons</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Mortgage Certificate, Mortgage Object, Natural Disaster</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Research Article</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ABSTRACT 
The event of the destruction of the object of the Mortgage Rights due to a natural disaster which is a force majeure or overmacht, the occurrence of which cannot be predicted or controlled by the parties in the Mortgage Agreement, is not specifically regulated in the Mortgage Law or other regulations. The absence of clear rules regarding the destruction of mortgage objects causes no legal protection for the parties, namely creditors and debtors to protect their interests in the event of a natural disaster. In this paper, we will discuss the legal protection for the parties whose objects of the Mortgage are destroyed due to natural disasters. The writing method used is a sociological juridical method (sociolegal research), which is to identify a legal issue from a social point of view. This writing then concludes that the destruction of the object of mortgage guarantee due to natural disasters is an overmacht condition or force majeure that is not explicitly regulated in the provisions of the UUHT. The destruction of the object of mortgage guarantee does not eliminate the debtor's obligations to the creditor. However, it requires the making of a re-agreement considering that the object of the guarantee as the object of the agreement has been destroyed. The agreement for the imposition of the Mortgage Rights becomes null and void because it does not meet the legal requirements of the agreement, and the destruction of the object of the Guaranteed Mortgage will cause the legal force of the Mortgage Certificate to be nullified.
Keywords: Mortgage Certificate, Mortgage Object, Natural Disaster
 
 INTISARI
Peristiwa musnahnya tanah obyek Hak Tanggungan karena bencana alam yang merupakan force majeur atau overmacht yang terjadinya tidak dapat diduga ataupun dikendalikan oleh para pihak dalam perikatan Hak tanggungan belum diatur secara khusus dalam Undang-Undang Hak Tanggungan atau peraturan lainnya. Belum adanya aturan yang jelas mengenai musnahnya obyek hak tanggungan menyebabkan tidak adanya perlindungan hukum bagi para pihak yaitu kreditor dan debitur untuk melindungi kepentingannya apabila peristiwa bencana alam terjadi. Dalam penulisan ini akan di bahas mengenai perlindungan hukum terhadap para pihak apabila obyek Hak Tanggungan tersebut musnah karena bencana alam. Metode penulisan yang digunakan adalah metode yuridis sosiologis (sociolegal research) yaitu mengidentifikasi suatu persoalan hukum dari sudut pandang sosial. Penulisan ini kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa Musnahnya obyek jaminan hak tanggungan dikarenakan bencana alam merupakan kondisi overmacht atau force majeur tidak diatur secara tegas dalam ketentuan UUHT. Musnahnya obyek jaminan hak tanggungan tidak menghilangkan kewajiban debitur terhadap kreditur. Namun memerlukan pembuatan perjanjian ulang mengingat obyek jaminan sebagai obyek perjanjian telah musnah maka perjanjian pembebanan Hak Tanggungan menjadi batal demi hukum dikarenakan tidak memenuhi syarat sah perjanjian, dan musnahnya objek jaminan Hak Tanggungan mengakibatkan kekuatan hukum sertipikat Hak Tanggungan tersebut menjadi hapus.
Kata Kunci: Sertifikat Hak Tanggungan, Objek Hak Tanggungan, Bencana Alam</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2021-12-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/15</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v1i2.15</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi; 149-159</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/15/11</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Dian Dewi Khasanah, Alfons</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/17</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T07:10:04Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Umum tentang Peluang, Kendala dan Pilihan untuk Meningkatkan Penggunaan Tanah di Provinsi Lampung</dc:title>
	<dc:creator>Salsabila, Aulia Zahra</dc:creator>
	<dc:creator>Ajie, Kuna</dc:creator>
	<dc:creator>Santoso, Rio Teguh</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Changes in Agricultural Land Use</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Community Welfare</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Use</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sustainable Development</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kesejahteraan Masyarakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Penggunaan Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pembangunan Berkelanjutan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Conformity in the management of agrarian resources based on the global action plan becomes a strategic component to end poverty, reduce inequality and protect the environment. Nevertheless, unbalanced land use management in the region generate the structural heterogeneity of the landscape that leads to environmental degradation. This research aims to identify landscape characteristics, problems and formulate solutions for land use and land utilization in Lampung Province. This research applies a qualitative method with a literature study approach. The data analysis uses descriptive analysis. The results showed that the landscape characteristics in 15 districts/cities were extremely diverse and were able to increase the regional export value of agricultural-plantation commodities. Nevertheless, the use of land in APL and forest areas in each region has not been utilized efficiently, effectively, successfully and beneficially. The Provincial Government has established policies for spatial planning, land use, protection of sustainable food agricultural land (LP2B). There is an urgent need to adopt local land use and conservation practices to prevent the deleterious effects of land use change. In general, stakeholders must restore lost territorial harmony and allocate land use in accordance with a sustainable socio-economic environment vision.Konformitas pengelolaan sumber daya agraria (SDA) berdasarkan rencana aksi global menjadi komponen strategis untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan hidup. Namun demikian, pengelolaan penggunaan tanah yang tidak seimbang di daerah menghasilkan heterogenitas struktural lanskap yang mengarah degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lanskap, permasalahan dan merumuskan solusi atas penggunaan dan pemanfaatan tanah di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik lanskap di 15 kabupaten/kota sangat beragam dan mampu meningkatkan nilai ekspor daerah dari komoditas pertanian-perkebunan. Meski demikian, penggunaan tanah di APL maupun kawasan hutan setiap daerah belum dimanfaatkan secara efisien efektif, berhasil guna dan berdaya guna. Pemerintah Provinsi telah menetapkan kebijakan tata ruang, tata guna tanah, perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Terdapat kebutuhan mendesak untuk mengadopsi praktik penggunaan dan konservasi tanah di daerah untuk mencegah efek perubahan penggunaan tanah yang merusak. Secara umum, pemangku kepentingan harus memulihkan keharmonisan wilayah yang hilang dan merelokasi penggunaan tanah sesuai dengan visi lingkungan-sosial ekonomi yang berkelanjutan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-06-12</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/17</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i1.17</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi; 65-87</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/17/16</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Aulia Zahra Salsabila, Kuna Ajie, Rio Teguh Santoso</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/18</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:23:53Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pembentukan Bank Tanah: Merencanakan Ketersediaan Tanah  untuk Percepatan Pembangunan di Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Danendra, Maulana Rafi</dc:creator>
	<dc:creator>Mujiburohman, Dian Aries</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bank Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pengadaan Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pencadangan Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pembangunan Nasional</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The availability of land is the main instrument for national development in Indonesia. However, the massive development activities undertaken by the government and the public often lead to friction over land management, development, security, and control issues. The presence of a land bank agency is expected to be able to guarantee the availability of land under development for public, social, and economic equity. This research aims to analyze the urgency of establishing a land bank agency, the mechanism of land acquisition as a support for national development, its opportunities, and challenges. A qualitative method with descriptive analysis is applied in this research. The primary and secondary data that have been obtained are analyzed descriptively through data reduction, data presentation, and drawing conclusions related to the existence of land bank entities in Indonesia. Take a look at the results of this research, it indicates that the land bank agency is an agency that is capable to answer problems related to land acquisition for development in Indonesia. The implementation mechanism starts from the process of procurement, management, utilization, and distribution of land. The availability of land by the land bank is not only capable to facilitate the investment climate, but also to avoid the swelling of financing in land acquisition, abandonment of land and land disputes. However, this study suggests that a more specific study is needed regarding the process of transferring land rights and coordination between relevant stakeholders in order to fulfill the object.
Ketersediaan tanah menjadi instrumen utama untuk pembangunan nasional di Indonesia. Namun, masifnya kegiatan pembangunan oleh pemerintah dan masyarakat sering kali menimbulkan gesekan permasalahan pengelolaan, pengembangan, pengamanan dan pengendalian atas tanah. Hadirnya badan bank tanah diharapkan mampu menjembatani ketersediaan tanah dalam pembangunan untuk kepentingan umum, sosial dan pemerataan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi pembentukan badan bank tanah, mekanisme perolehan tanah sebagai penunjang pembangunan nasional, peluang dan tantangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Data primer dan sekunder yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data hingga penarikan kesimpulan terkait dengan keberadaan badan bank tanah di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa badan bank tanah merupakan badan yang mampu menjawab persoalan terkait dengan pengadaan tanah untuk pembangunan di Indonesia. Mekanisme pelaksanaannya dimulai dari proses pengadaan, pengelolaan, pemanfaatan hingga pendistribusian tanah. Ketersediaan tanah oleh badan bank tanah selain mampu memudahkan iklim investasi, juga mampu menghindarkan pembengkakan pembiayaan dalam pembebasan tanah, penelantaran tanah serta sengketa tanah. Namun demikian, penelitian ini menyarankan perlu dilakukan kajian yang lebih spesifik terkait proses peralihan hak atas tanah dan koordinasi antar stakeholder terkait dalam rangka pemenuhan objeknya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-04-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/18</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i1.18</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi; 1-20</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/18/12</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Maulana Rafi Danendra, Dian Aries Mujiburohman</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/19</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:21:40Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Konsistensi Perlindungan Hukum Kepemilikan dan Hak Atas Tanah melalui Sertipikat Tanah Elektronik</dc:title>
	<dc:creator>Sapardiyono, Sapardiyono</dc:creator>
	<dc:creator>Pinuji, Sukmo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Electronic land certificate</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Modern services</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Court legal power</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Digital technology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sertipikat tanah elektronik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pelayanan modern</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kekuatan hukum pengadilan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The innovation of electronic land certificates is one of the Indonesian government's efforts to improve modern land services with information technology and telecommunications. Nevertheless, it is crucial to anticipate and formulate policies for the application of this service product, so that one's ownership and rights are guaranteed to be valid. This research aims to analyze the position and function of electronic land certificates as evidence of ownership and rights to one's land in front of a judge. This research applies descriptive qualitative method. Primary and secondary data were obtained through interviews and document studies. The data were analyzed using a sociolegal approach. The results showed that the electronic land certificate is a legal product of a series of electronic land registration. Electronic land certificates are legally valid and are legally used as evidence of ownership of a person's land parcel in court. This research concludes that the suitability of physical and juridical data recorded electronically, stages and standardization of archiving is the key to modern land registration services. In addition, cross-country, public/private cooperation needs to be implemented immediately, in line with global cybersecurity threats.
Inovasi atas sertipikat tanah elektronik menjadi salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan pertanahan modern dengan teknologi informasi dan telekomunikasi. Namun demikian, antisipasi dan perumusan kebijakan penggunaan produk layanan tersebut menjadi penting, agar kepemilikan dan hak seseorang senantiasa terjamin keabsahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan dan fungsi sertipikat tanah elektronik sebagai alat bukti kepemilikan dan hak atas tanah seseorang di depan hakim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer dan sekunder diperoleh melalui wawancara serta studi dokumen. Data-data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan sosiolegal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sertipikat tanah elektronik merupakan produk hukum dari rangkaian pendaftaran tanah secara elektronik. Sertipikat tanah elektronik secara hukum sah dan legal digunakan sebagai alat bukti kepemilikan bidang tanah seseorang di pengadilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesesuaian data fisik dan yuridis yang terekam secara elektronik, tahapan dan standarisasi pengarsipan menjadi kunci atas layanan pendaftaran tanah modern. Selain itu, kerja sama lintas negara, publik/swasta perlu segera dilaksanakan, seiring adanya ancaman keamanan siber yang bersifat global.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-06-04</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/19</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i1.19</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi; 54-64</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/19/15</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Sapardiyono, Sukmo Pinuji</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/23</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:22:23Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Reforma Agraria untuk Kedaulatan Pangan: Problem Ketidakberlanjutan dan Limitasinya</dc:title>
	<dc:creator>Pujiriyani, Dwi Wulan </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">economic democratization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">food sovereignty</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">agrarian reform</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">agrarian policy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">agrarian reform</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Food sovereignty implies a comprehensive agrarian reform adapted to local conditions in each country in order to have equal access to productive resources, especially land. As the main pillar of food sovereignty and an instrument of economic democratization, agrarian reform is not an easy mechanism to protect farmers. This paper will specifically discuss the practice of agrarian reform in achieving the vision of food sovereignty. This research is included into a library research with a semi-systematic approach. Data analysis for this paper was accomplished qualitatively. The results show that there are two main prerequisites that are difficult to fulfill in order to realize the vision of food sovereignty through agrarian reform, including the lack of government political commitment and incomplete agrarian data. This situation ultimately has an impact on not achieving the vision of food sovereignty. This problem is triggered not only from internal implementing agencies but also from external implementing agencies. Internal triggers occur because of the capacity of implementing agencies and the placement of policy priorities which lead to policy overlaps. Meanwhile, externally, the trigger is the rejection of subjects outside of agrarian reform.
Kedaulatan pangan mengisyaratkan dijalankannya pembaruan agraria secara komprehensif yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi lokal di setiap negara agar memiliki akses yang sama terhadap sumber-sumber produktif terutama tanah. Sebagai pilar utama kedaulatan pangan dan instrumen demokratisasi ekonomi, reforma agraria bukanlah mekanisme melindungi petani yang mudah untuk dijalankan. Tulisan ini secara khusus akan membahas praktik reforma agraria dalam mencapai visi kedaulatan pangan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan semi-sistematis. Analisis data untuk tulisan ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua prasyarat utama yang ternyata sulit terpenuhi untuk mewujudkan visi kedaulatan pangan melalui reforma agraria yaitu kurangnya komitmen politik pemerintah dan data agraria yang kurang lengkap. Situasi ini pada akhirnya berdampak pada tidak tercapainya visi kedaulatan pangan. Problem ini dipicu tidak hanya dari internal tetapi juga dari eksternal lembaga pelaksana. Pemicu internal terjadi karena kapasitas lembaga pelaksana dan penempatan prioritas kebijakan yang berujung pada terjadinya tumpang tindih kebijakan. Sementara itu dari eksternal, pemicunya adalah penolakan dari subjek di luar reforma agraria.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-04-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/23</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i1.23</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi; 39-53</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/23/14</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Dwi Wulan Pujiriyani</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/24</identifier>
				<datestamp>2023-06-16T08:23:07Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kolaborasi Menyelesaikan Ketidaktuntasan Program Strategis Nasional (PTSL-K4) di Masyarakat Melalui Praktik Kerja Lapang (PKL)</dc:title>
	<dc:creator>Junarto, Rohmat</dc:creator>
	<dc:creator>Suhattanto, Muh. Arif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Field practice</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land registration</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land data</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The activity of registering land plots ownership from village to village faces challenges in terms of quantity and reliability of data quality. The problem of incomplete document digitization, land plots that have not been georeferenced and/or incompatibility with the real conditions requires an emphasis on improving service quality. This study aims to determine how quality control is applied to PTSL, the implementation of street vendors, and the significance of technology as a step to improve the land data quality. This research uses descriptive qualitative method. Primary and secondary data comes from a series of land registration activities or street vendors that synergize between students, instructors, and the community in Grogol Village, Gunungkidul Regency. The data analysis were done by examining all research data, reducing it, and compiling abstractions to logically proportional statements. The results show that the latest PTSL scheme emphasizes quality control as an integrated part in every stage. Public participation (academics and community) is able to realize an intact village with the best quality. Optimizing the use of digital-based technology is a necessity in digital transformation for electronic services. Discipline, accuracy, portability, interoperability, and spatial representation of land registration activities are the keys to the realization of guaranteed land rights/laws.
Kegiatan pendaftaran kepemilikan bidang tanah pada suatu desa demi desa menghadapi tantangan dari sisi kuantitas maupun keandalan kualitas datanya. Masalah digitalisasi dokumen yang tidak lengkap, bidang tanah yang belum tergeoreferensi dan/atau ketidaksesuaian dengan kondisi di lapangan memerlukan penekanan peningkatan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontrol mutu diterapkan pada PTSL, implementasi PKL dan signifikansi teknologi sebagai langkah meningkatkan kualitas data pertanahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer dan sekunder berasal dari rangkaian kegiatan pendaftaran tanah atau pun PKL yang menyinergikan antara mahasiswa, instruktur dan masyarakat di Desa Grogol, Kabupaten Gunungkidul. Analisis datanya dengan menelaah seluruh data penelitian, mereduksinya, menyusun abstraksi hingga pernyataan proporsional secara logis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema terbaru PTSL menekankan kontrol kualitas sebagai bagian terintegrasi di setiap tahapan. Partisipasi publik (akademisi dan masyarakat) mampu mewujudkan desa lengkap dengan kualitas terbaik. Optimasi penggunaan teknologi berbasis digital menjadi sebuah keniscayaan dalam transformasi digital untuk layanan elektronik. Kedisiplinan, akurasi, portabilitas, interoperabilitas dan representasi spasial atas kegiatan pendaftaran tanah menjadi kunci terwujudnya jaminan kepastian hak/hukum tanah</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-04-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/24</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i1.24</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi; 21-38</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/24/13</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Rohmat Junarto, Muh. Arif Suhattanto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/27</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:22:47Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kesesuaian Penggunaan Lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah  di Kecamatan Syamtalira Aron Kabupaten Aceh Utara</dc:title>
	<dc:creator>Perkasa, Desga</dc:creator>
	<dc:creator>Istiqomah, Dyah Ayu</dc:creator>
	<dc:creator>Aisiyah, Nuraini</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">North Aceh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land use requirements</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">regional spatial planning</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">regional spatial planning</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">It is critical to assess the suitability of land use against the Regional Spatial Plan (RTRW) in order to achieve optimal land use. Inconsistency between the two can result in issues such as land degradation, conversion, and fragmentation. The purpose of this study is to compare the suitability of Syamtalira Aron District's land use in 2022 to the North Aceh District Spatial Plan 2012-2031. This study employs mix methods. Officers from the North Aceh District Land Office conducted field surveys to obtain primary land use data, while the North Aceh District Development Planning Agency provided secondary data on the RTRW maps. The study found that there was a suitability and incompatibility between the existing land use and the RTRW in Syamtalira Aron District, with each covering an area of 1908,84 ha or 90% of the total area of the sub-district and an area of 212.36 ha or 10% of the total area of the sub-district. Because of demographic changes and sub-district economic growth, areas designated for wetland agriculture and plantations have the most types of land use built-up areas and Exxon Mobil oil mining facilities. This study concludes that the North Aceh District Government should revise the RTRW and tighten land conversion permits.
Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) penting dalam mencapai pemanfaatan lahan yang optimal. Inkonsistensi antara keduanya dapat menimbulkan permasalahan degradasi lahan, alih fungsi lahan dan fragmentasi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian penggunaan lahan Kecamatan Syamtalira Aron Tahun 2022 dengan RTRW Kabupaten Aceh Utara 2012-2031. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Data primer penggunaan lahan diperoleh melalui survei lapang oleh petugas dari Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Utara, sedangkan data sekunder peta RTRW diperoleh dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Utara. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat kesesuaian dan ketidaksesuaian antara penggunaan lahan existing terhadap RTRW di Kecamatan Syamtalira Aron masing-masing seluas 1908,84 ha atau 90% dari total luas kecamatan dan seluas 212,36 ha atau 10 % dari total luasan kecamatan. Kawasan dengan peruntukan pertanian lahan basah dan perkebunan menjadi kawasan yang paling banyak terdapat jenis penggunaan lahan areal terbangun dan fasilitas pertambangan minyak Exxon Mobil, akibat perubahan demografi maupun pertumbuhan ekonomi kecamatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Utara perlu melakukan revisi RTRW dan mengetatkan perizinan alih fungsi lahan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-12-12</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/27</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i2.27</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 2 (2022): Widya Bhumi; 152-165</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/27/22</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Desga Perkasa, Dyah Ayu Istiqomah, Nuraini Aisiyah</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/39</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:24:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaturan dan Penerapan Asas Contradictoire Delimitatie di Kantor Pertanahan Kabupaten Kebumen</dc:title>
	<dc:creator>Supriyanti, Theresia</dc:creator>
	<dc:creator>Ardhi, Ardhi Arnanto</dc:creator>
	<dc:creator>Mahasari, Jamaluddin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asas contracdictoire delimitatie</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">data fisik bidang tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">PTSL</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Each owner must create and place boundary markers at his property's corners with his neighbors' approval to reduce legal conflicts over land parcel borders. This claim is confirmed by 2016 Kebumen District Land Office study and 2023 key informant interviews. This descriptive qualitative study uses interviews and document analysis to gather primary and secondary data. Summarizing, classifying, and extracting inferences from data is descriptive analysis. According to the study, landowners and neighbors agreeing on land parcel borders (contradictoire delimitatie) can lessen conflicts and property disputes. Despite the rising land registration objective, land office staff and the private sector struggle to apply the boundary agreement concept due to a lack of public knowledge. The Minister of Agrarian Affairs and Spatial Planning/Head of the National Land Agency Regulation No. 16/2021 now includes Articles 19A, 19B, 19C, and 19D to execute this concept. The Kebumen District Land Office and the business sector have used cross-spatial and temporal information and communication technology and other technologies to appoint, install, and delineate land parcels.
Untuk meminimalkan konflik hukum atas garis batas bidang tanah, maka setiap pemilik tanah bertanggung jawab untuk membuat dan memasang tanda batas pada sudut bidang tanahnya dengan mendapat izin dari tetangganya. Argumen ini mendasarkan penelitian yang dilakukan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Kebumen Tahun 2016 yang kemudian dilengkapi dengan wawancara dengan informan kunci tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data primer dan sekunder melalui wawancara dan studi dokumen. Setelah data-data tersebut terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan meringkas, mengelompokkan dan menyimpulkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemenuhan pengaturan asas persetujuan penempatan batas bidang tanah oleh pemilik dan tetangga yang berbatasan (contradictoire delimitatie) mampu meminimalisir konflik maupun sengketa pertanahan. Namun demikian, seiring dengan meningkatnya target pendaftaran tanah, petugas kantor pertanahan maupun pihak swasta kesulitan dalam menerapkan asas persetujuan batas karena kesadaran masyarakat yang kurang. Oleh karena itu, pemerintah melakukan perubahan pengaturan untuk menerapkan asas tersebut dengan menyisipkan Pasal 19A, Pasal 19B, Pasal 19C dan Pasal 19D pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 16/2021. Kantor Pertanahan Kabupaten Kebumen dan pihak swasta telah berupaya memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang mempertimbangkan lintas aspek ruang dan waktu atau teknologi lainnya untuk penunjukan, pemasangan dan penetapan batas bidang tanah.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/39</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i1.39</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 1 (2023): Widya Bhumi; 46-61</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/39/26</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Theresia Supriyanti, Ardhi Arnanto Ardhi, Jamaluddin Mahasari</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/40</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:22:47Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pilihan Instrumen Kebijakan Penataan Ruang Untuk Manajemen Sumber Daya Tanah Pertanian (Sawah) Di Kabupaten Sleman </dc:title>
	<dc:creator>Asmara, Rita</dc:creator>
	<dc:creator>Purbokusumo, Yuyun</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agricultural land conversion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land use policy choices</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">spatial planning</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agricultural land conversion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land use policy choices</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Regional development integration in regions can be successful with a holistic and long-term spatial arrangement. Rice fields' role as a rice-producing space in Sleman (Sleman) district began to shift in tandem with broader social changes such as changes in economic structure and demographics. The purpose of this article is to identify policy planning and analyze the consistency of spatial planning policies, such as the protection of sustainable food agricultural land (paddy fields). The qualitative research method was used, along with descriptive analysis. The study's findings indicate that spatial planning policies are consistent internally and horizontally, but not vertically. Internal policy consistency occurs as a result of the Sleman Regional Government fulfilling the mandate of the spatial planning law by ratifying a number of regional policies. Horizontal policy consistency can be seen in the coordination between agencies/services in providing perspectives and technical considerations based on the spatial plan. Vertical policy inconsistency occurs when the Sleman Regional Government does not impose a fine/imprisonment in accordance with the provisions of the RTRW but instead issues a warning letter to perpetrators of space utilization violations. Essentially, the conversion of paddy fields occurs as a result of the landowner's intentionality and the encouragement of business actors who invest their capital.
Keterpaduan pengembangan wilayah di daerah dapat berhasil melalui penataan ruang yang holistik dan berkelanjutan. Peran sawah sebagai ruang penghasil beras di kabupaten Sleman (Sleman) mulai bergeser seiring perubahan sosial yang lebih luas termasuk perubahan struktur ekonomi dan demografi. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi perencanaan kebijakan dan menganalisis konsistensi kebijakan penataan ruang termasuk perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (sawah). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat konsistensi kebijakan penataan ruang secara internal dan horizontal, namun tidak konsisten secara vertikal. Konsistensi kebijakan secara internal terjadi karena Pemda Sleman telah menjalankan amanat undang-undang penataan ruang dengan mengesahkan sejumlah peraturan daerah (perda) untuk melindungi lahan sawah yaitu Perda LP2B. Perda RTRW 2021-2041, perda izin pemanfaatan ruang dan satu peraturan bupati tentang RDTR. Konsistensi kebijakan secara horizontal terlihat dari adanya koordinasi antar instansi/dinas dalam memberikan pandangan dan pertimbangan teknis berdasarkan rencana tata ruang. Ketidakkonsistenan kebijakan secara vertikal terjadi ketika Pemda Sleman tidak memberikan hukuman denda/penjara sesuai ketentuan RTRW tetapi berwujud surat peringatan terhadap pelaku pelanggar pemanfaatan ruang. Pada dasarnya alih fungsi lahan sawah terjadi karena unsur kesengajaan pemilik tanah dan dorongan pelaku usaha yang menginvestasikan modalnya.
 </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-11-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/40</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i2.40</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 2 (2022): Widya Bhumi; 88-103</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/40/17</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Rita Asmara, Yuyun Purbokusumo</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/41</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:22:47Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Memaknai Konsultasi Publik dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengadaan Tanah</dc:title>
	<dc:creator>Tetama, Androvaga Renandra</dc:creator>
	<dc:creator>Suharno, Suharno</dc:creator>
	<dc:creator>Tyola, Yaritza Nafa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land acquisition</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">meaningful public participation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">physical development</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The Jakarta Bandung Fast Train (KCJB) infrastructure development aims to improve mass transportation performance. The KCJB construction work, however, was hampered by the lengthy and expensive process of financing land acquisition. The purpose of this article is to describe the achievement of KCJB development targets and to explain why it is critical to implement meaningful public consultation and community participation (KPPM) in land acquisition. Through a review of the literature, this study employs the descriptive qualitative method. According to the study's findings, the Indonesian and Chinese governments are committed to completing the KCJB's construction. Despite the fact that the land acquisition activities lasted five years (2017-2021), they were able to provide land with an area of 7.6 million square meters and a length of 142.3 km. The lengthy land acquisition process has resulted in an increase in land acquisition financing from two trillion to 113 trillion. Project construction work has reached 88.8 percent completion by the end of 2022. This study emphasizes the importance of KPPM in preventing conflict or rejection, social disintegration, or even violence, all of which result in the failure to meet KCJB's development targets on time. To improve the performance of the mass transportation sector, the two countries must complete construction of the KCJB as soon as possible.
Pembangunan infrastruktur Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) bertujuan untuk pengembangan kinerja transportasi massal. Namun, pekerjaan pembangunan KCJB terganjal oleh lama dan mahalnya pembiayaan pengadaan tanah. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan pencapaian target-target pembangunan KCJB dan memaparkan urgensi penerapan konsultasi publik dan partisipasi masyarakat (KPPM) yang bermakna dalam pengadaan tanah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia-Cina berkomitmen menyelesaikan pembangunan KCJB. Meskipun pengadaan tanah berlangsung selama lima tahun (2017-2021), kegiatan tersebut mampu menyediakan tanah seluas 7,6 juta meter persegi dengan panjang 142,3 km. Lamanya proses pengadaan tanah berdampak pada meningkatnya pembiayaan pengadaan tanah dari perencanaan awal dua triliun menjadi 113 triliun. Hingga akhir 2022 pekerjaan konstruksi proyek mencapai 88,8 persen. Kajian ini menekankan pentingnya KPPM untuk mencegah terjadinya konflik atau penolakan, disintegrasi sosial, atau pun kekerasan yang berdampak tidak tercapainya target-target pembangunan KCJB dengan tepat waktu. Kedua negara harus segera menyelesaikan pembangunan KCJB untuk meningkatkan kinerja sektor transportasi massal.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-12-09</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/41</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i2.41</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 2 (2022): Widya Bhumi; 136-151</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/41/21</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Androvaga Renandra Tetama, Suharno Suharno, Yaritza Nafa Tyola</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/42</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:24:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tantangan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap di Kabupaten Ende</dc:title>
	<dc:creator>Adinegoro, Kurnia Rheza Randy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tanah ulayat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">masyarakat hukum adat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pendaftaran tanah sistematis lengkap</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The local government acknowledges that indigenous peoples have a legal unit, a unit of power, and a unit of territory. The authority of customary leaders makes it hard for the Ende Land Office to implement full systematic land registration (PTSL). The goal of this study was to figure out how the presence of indigenous peoples affects the implementation of PTSL in Ende Regency. The study used qualitative research tools. During the five years that PTSL was in place, recording and observation studies were used to gather information. Data analysis uses narrative analysis by reducing data, showing data, and drawing conclusions. The study's results show that most of the towns in Ende Regency are still strong in Mosalaki. Mosalaki is a symbol of the existence of indigenous peoples. He is also the person in charge of customary power over rituals and control over customary lands. So, for PTSL to work, the Ende District Land Office has to talk to Mosalaki to get their support and approval for their area to be a PTSL site. The fact that it was hard to get Mosalaki's approval became the main thing that stopped the PTSL from doing things from village to village. Mosalaki didn't want a PTSL in his area because he was worried about members of the indigenous community giving their land to other people and how members of the indigenous peoples would act after land certification in regards to customary provisions.
Masyarakat adat memiliki eksistensi kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan wilayah yang diakui oleh pemerintah daerah. Adanya otoritas pemimpin adat menjadikan tantangan bagi Kantor Pertanahan Ende dalam pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh eksistensi masyarakat adat terhadap pelaksanaan PTSL di Kabupaten Ende. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data-datanya melalui studi dokumentasi dan observasi selama lima tahun pelaksanaan PTSL. Analisis datanya menggunakan analisis naratif dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan hingga penarikan kesimpulan. Temuan studi menunjukkan bahwa sebagian besar desa-desa di Kabupaten Ende masih kental dengan adanya Mosalaki. Mosalaki sebagai simbol keberadaan masyarakat adat bertugas sebagai penanggung jawab kekuasaan adat atas ritual dan penguasaan tanah-tanah adat. Oleh karena itu dalam pelaksanaan PTSL, Kantor Pertanahan Kabupaten Ende wajib melakukan konsultasi dengan Mosalaki agar mendapatkan dukungan dan persetujuan atas wilayahnya untuk ditetapkan menjadi lokasi PTSL. Kesulitan untuk mendapatkan persetujuan Mosalaki menjadi faktor penghambat utama dalam kegiatan PTSL dari desa ke desa. Kekhawatiran akan lepasnya kepemilikan tanah dari anggota masyarakat adat ke orang lain serta modus tidak tertibnya anggota masyarakat adat terhadap ketentuan adat pasca sertipikasi tanah menjadi dasar Mosalaki untuk menolak lokasi PTSL di wilayahnya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/42</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i1.42</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 1 (2023): Widya Bhumi; 1-12</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/42/23</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Kurnia Rheza Randy Adinegoro</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/43</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:22:47Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Penerapan Blockchain untuk Pencegahan Sertipikat Tanah Ganda di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional</dc:title>
	<dc:creator>Nugraha, Joshua Paskah</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawan, Aris Prasetyo</dc:creator>
	<dc:creator>Putri, Indriana Diani</dc:creator>
	<dc:creator>Wicaksono, Ryan Kunto</dc:creator>
	<dc:creator>Tarisa, Tarisa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blockchain technology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">multiple land certificates</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">overlapping land plots</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">server system</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The advantages of secure land ownership through land certificates have long been recognized as the One of the issues that has yet to be resolved in Indonesia is the issue of multiple land certificates. These issues arise as a result of data defects that occur during the process of collecting and presenting information on land parcels from upstream to downstream. The purpose of this paper is to describe how blockchain technology can be used to reduce the problem of multiple certificates. The descriptive qualitative research method was used in this study, which combined a systematic literature review approach with the author's experience while working in the land office. According to the study's findings, blockchain technology can maintain the security of physical and legal data on registered land parcels. The process of validating land data is decentralized to land certificate owners via the blockchain network, making changes to land data difficult for irresponsible parties to manipulate. Land information can now be recorded digitally, distributed easily, and cannot be manipulated thanks to blockchain technology. The government and society can assume full responsibility for the security and confidentiality of land parcel data in the future by implementing blockchain technology.
Permasalahan pertanahan mengenai sertipikat tanah ganda di Indonesia menjadi salah satu masalah yang belum bisa dituntaskan hingga saat ini. Permasalahan tersebut muncul karena proses menghimpun dan menyajikan informasi bidang tanah pada saat di hulu hingga hilir mengalami kecacatan data, baik fisik maupun yuridis. Tulisan ini bertujuan menguraikan penerapan teknologi blockchain untuk meminimalisasi permasalahan sertipikat ganda. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan mengadopsi pendekatan tinjauan literatur sistematis yang dipadukan dengan pengalaman penulis selama berada di kantor pertanahan. Hasil kajian menyebutkan bahwa teknologi blockchain mampu menjaga keamanan data fisik maupun yuridis bidang tanah yang telah terdaftar. Terdesentralisasinya proses validasi data pertanahan kepada pemilik sertipikat tanah melalui jaringan blockchain, menjadikan setiap perubahan data pertanahan akan sulit untuk dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Teknologi blockchain memungkinkan informasi pertanahan dapat direkam secara digital, mudah didistribusikan dan tidak bisa di manipulasikan. Pemerintah dan masyarakat dapat memikul tanggung jawab penuh atas keamanan dan kerahasiaan data bidang tanah di masa mendatang dengan menerapkan teknologi blockchain.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-12-08</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/43</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i2.43</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 2 (2022): Widya Bhumi; 123-135</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/43/20</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Joshua Paskah Nugraha, Aris Prasetyo Kurniawan, Indriana Diani Putri, Ryan Kunto Wicaksono, Tarisa Tarisa</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/44</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:22:47Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Persepsi dan Minat Masyarakat Pesisir Terhadap Sertipikat Tanah </dc:title>
	<dc:creator>Irawan, Yudhiana</dc:creator>
	<dc:creator>Junarto, Rohmat</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Perception level</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">fishery communities</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">perception distortion</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The advantages of secure land ownership through land certificates have long been recognized as the foundation for developing regional economies. However, less than half of the land plots in Ayah Subdistrict's coastal villages have not yet been certified. This study aims to assess coastal communities' perceptions and interests in land certification, as well as the factors that influence them, in five coastal villages in Ayah District, Kebumen Regency. The descriptive research method is combined with a qualitative approach. Techniques for gathering primary and secondary data include observation, interviews, and documentation studies. The descriptive qualitative analysis is used in the data analysis technique. The study's findings indicate that coastal communities in five villages have distorted perceptions of land certificates and differing levels of interest in them. Perception distortion It has been confirmed that land certificates are similar to Letters of Notification of Taxes Payable on Land and Building Tax (SPPT-PBB) and Motor Vehicle Ownership Books (BPKB). Knowledge, the need for security, the need for capital, and the value of land are all factors that influence people's interest. To gain sympathy and empathy from the community, the land certification program necessitates best practices and long-term program goals.
Manfaat dari kepemilikan tanah yang aman melalui sertipikat tanah telah lama dipahami sebagai basis menumbuhkan ekonomi pembangunan daerah. Namun, kurang dari 50% bidang tanah di desa-desa pesisir Kecamatan Ayah belum bersertifikat. Penelitian ini mempunyai tujuan mengevaluasi persepsi dan minat masyarakat pesisir terhadap sertifikasi tanah serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di lima desa pesisir Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data primer dan sekunder melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di lima desa memiliki distorsi persepsi dan diferensiasi minat terhadap sertipikat tanah. Distorsi persepsi terkonfirmasi bahwa sertipikat tanah layaknya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT-PBB) dan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Faktor yang mempengaruhi minat masyarakat adalah pengetahuan, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan permodalan dan nilai tanah. Program sertipikasi tanah memerlukan praktik terbaik dan sasaran program yang berkelanjutan untuk mendapatkan simpati dan empati masyarakat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2022-12-06</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/44</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v2i2.44</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 2 No. 2 (2022): Widya Bhumi; 104-122</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/44/19</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Yudhiana Irawan, Rohmat Junarto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/51</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:24:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pemanfaatan Data Geospasial dalam Mewujudkan Sistem Informasi Pertanahan Multiguna Bagi Multipihak</dc:title>
	<dc:creator>Meidodga, Ishak</dc:creator>
	<dc:creator>Syahrin, Alfi</dc:creator>
	<dc:creator>Putra, Reza Triadi</dc:creator>
	<dc:creator>Warfandu, Frantus</dc:creator>
	<dc:creator>Bimasena, Agung Nugroho</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Data digital</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">data spasial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">desa lengkap multiguna</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">In today's globalized world, geospatial information is vital to policymaking, decision-making, and earth space operations. One of the means of achieving this objective is to conduct research evaluating the advantages of multifunctional, comprehensive villages for a variety of stakeholders. This study employs qualitative methods and literature review techniques to evaluate the advantages of comprehensive, multipurpose village information for multiple stakeholders. Complete villages make it easier for villages to access land information for development planning, according to the findings of the study. This study emphasizes the significance of updating and expanding digital access to comprehensive village land information. It is necessary to continue the development of geospatial information technology in order to increase the potential and utility of digital data in a cadastre with multiple uses. In this way, the public and government agencies can have simpler, quicker, and more accurate access to information, which can enhance the quality of space-related endeavors.
Di dunia global saat ini, informasi geospasial sangat penting untuk pembuatan kebijakan, pengambilan keputusan, dan operasi ruang bumi. Salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan ini adalah dengan melakukan penelitian untuk mengevaluasi manfaat desa lengkap multiguna bagi multipihak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan teknik literature review untuk menilai manfaat informasi desa lengkap multiguna bagi multipihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa lengkap memberikan kemudahan bagi desa dalam mengakses informasi pertanahan untuk perencanaan pembangunan. Penelitian ini menekankan pentingnya memperbarui dan meningkatkan ketersediaan informasi pertanahan desa lengkap secara digital. Pengembangan teknologi informasi geospasial perlu terus dilakukan agar dapat mengembangkan potensi dan pemanfaatan data digital dalam kadaster multiguna. Dengan begitu, akses informasi dapat semakin mudah, cepat, dan akurat bagi masyarakat dan instansi pemerintah, serta dapat meningkatkan kualitas kegiatan yang berkaitan dengan ruang kebumian.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-07-03</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/51</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i1.51</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 1 (2023): Widya Bhumi; 62-80</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/51/27</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Ishak Meidodga, Alfi Syahrin, Reza Triadi Putra, Frantus Warfandu, Agung Nugroho Bimasena</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/52</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:24:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaturan dan Pemanfaatan Ortomosaik UAV pada Pengukuran Bidang Tanah Terintegrasi</dc:title>
	<dc:creator>Fahmi, Kharisudin</dc:creator>
	<dc:creator>Kamal, Mohammad Rizqi Safirul</dc:creator>
	<dc:creator>Suhattanto, Muh. Arif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pengaruh wind shear</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pendaftaran tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">UAV</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Fotogrametri dan Penginderaan Jauh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">To speed up land registration, a geospatial data collecting method must be developed to meet the nation's and state's growing requirement for land information. Photogrammetry-based land parcel surveying and mapping is more efficient than terrestrial approaches. However, rules, data gathering methods, wind, and data processing make photogrammetric methods difficult to utilize. This article examines UAV geographic data collecting regulations and data quality criteria. Qualitative literature study and descriptive analysis are used in this study. The study found that the surveyor must draw the measured land parcels on an orthophoto map so they may be identified and their position, borders, area, form, and boundary points rebuilt in the field. Surveyors must additionally lead UAV flying arrangements provided by the Ministry of ATR/BPN and the Ministry of Transportation. No-fly zones, flying height limitations, recording sensors, wind, and geographic data quality are the main factors. To avoid cancellation, land registration technical and juridical procedures must follow the law and fulfill the essential rules.
Meningkatnya kebutuhan akan informasi pertanahan oleh masyarakat bangsa dan negara, memerlukan pengembangan pendekatan akuisisi data geospasial yang cocok untuk percepatan pendaftaran tanah secara lengkap. Metode survei dan pemetaan dengan metode fotogrametris terbukti lebih efektif dan efisien dalam mengumpulkan data fisik bidang tanah daripada metode terestris. Namun, penggunaan metode fotogrametris tersebut memiliki beragam tantangan terkait regulasi, teknis akuisisi data, keberadaan angin dan pengolahan datanya. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis dinamika regulasi akuisisi data geospasial menggunakan wahana unmanned aerial vehicle (UAV) dan spesifikasi teknis kualitas data yang dihasilkan. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan menganalisisnya secara deskriptif. Hasil kajian menyebutkan bahwa secara teknis, surveyor harus memetakan bidang-bidang tanah yang telah terukur di atas peta orthophoto agar bidang tanah tersebut dapat diketahui letak, batas, luas, bentuk dan dapat direkonstruksikan titik batasnya di lapangan. Secara regulasi, surveyor juga harus memedomani pengaturan penerbangan uav yang telah dikeluarkan oleh Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Perhubungan. Utamanya  terkait adanya zona larangan terbang, batasan ketinggian terbang dan sensor perekaman, pengaruh angin dan kualitas data geospasial. Pemenuhan prosedur teknis dan yuridis pendaftaran tanah harus mendasarkan pada hukum dan memenuhi tujuan peraturan dasarnya agar tidak berakibat batal atau di batalkan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-05-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/52</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i1.52</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 1 (2023): Widya Bhumi; 31-45</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/52/25</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Kharisudin Fahmi, Mohammad Rizqi Safirul Kamal, Muh. Arif Suhattanto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/53</identifier>
				<datestamp>2023-07-08T10:24:29Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Identifikasi dan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Zonasi Wilayah Rawan Kebakaran dengan Teknologi Geospasial</dc:title>
	<dc:creator>Rosit, Harun All</dc:creator>
	<dc:creator>Mardhotillah, Ahid</dc:creator>
	<dc:creator>Delazenitha, Regina Aura</dc:creator>
	<dc:creator>Mutiarani, Syarifah</dc:creator>
	<dc:creator>Sulle, Tiara Vianney Christina</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kebakaran hutan dan lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">hot spot</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">peta kerawanan bencana kebakaran</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">One of the unpredicted tragedies is the occurrence of forest and land fires. Hotspots detected by satellite imagery reveal a correlation between the vulnerability of different Indonesian districts and towns to forest and land fires. The purpose of this research is to determine how susceptible the Lamandau District of Central Kalimantan Province is to forest and land fires. A quantitative strategy based on geographical analysis is employed for this study. Parameters including the number and distribution of hotspots, land cover type, peatland depth, topography, and the position of HGUs may be used in a GIS (Geographic Information System)-based spatial analysis to map forest and land fire risk. At the time of the assessment, 95.06 percent of the district's territory was not at high risk of being destroyed by fire. Large plantations and smallholder plantations are the most common settings for these fires since they are where the land is being cleared for agricultural use. There are a number of correlations between hotspot density and factors such as peat depth, land cover type, and the presence of HGU sites.
 
Fenomena kebakaran yang terjadi pada hutan dan lahan menjadi salah satu bencana yang tidak direncanakan. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada beberapa kabupaten/kota di Indonesia sangat bervariasi tingkat kerawanannya dan sebanding dengan jumlah serta persebaran hotspot yang terekam oleh satelit penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial. Berdasarkan analisis spasial menggunakan GIS (Geography Information System), penelitian menunjukkan bahwa parameter-parameter seperti: jumlah dan persebaran hotspot, jenis tutupan lahan, keberadaan lahan gambut, topografi, dan lokasi HGU mampu memetakan kerawanan kebakaran hutan dan lahan. Mayoritas daerah penelitian memiliki tingkat kerawanan kebakaran rendah dengan persentase 95,06% dari total luas kabupaten pada saat penelitian. Penyebab kebakaran berasal dari aktivitas manusia pada saat pembukaan lahan untuk pertanian dan mayoritas berada di lokasi perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Kepadatan hotspot memiliki berbagai hubungan dengan keberadaan lahan gambut, jenis tutupan lahan, dan keberadaan lokasi HGU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-05-06</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/53</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i1.53</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 1 (2023): Widya Bhumi; 13-30</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/53/24</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Harun All Rosit, Ahid Mardhotillah, Regina Aura Delazenitha, Syarifah Mutiarani, Tiara Vianney Christina Sulle</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/54</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pendaftaran Tanah Masyarakat Adat Toraja</dc:title>
	<dc:creator>Evitasari, Sherly</dc:creator>
	<dc:creator>Syafira, Agina</dc:creator>
	<dc:creator>Saleh, Raden Deden Dani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tanah Tongkonan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tanah Adat Toraja</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pendaftaran Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pendaftaran Tanah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Indigenous communities have a noble tradition and cultural identity for sustainably managing their dwellings and territorial environments. With increasing physical, economic, and social development, indigenous communities face incredible difficulty obtaining recognition and respect for their customary rights from the government. This research aims to highlight the indigenous Tana Toraja community's land and ancestral property management system, which is crucial for recognizing the indigenous Tana Toraja community's land and ancestral property management system, which is essential to realizing their customary rights. Using a qualitative method involving interviews and observations, the study engaged 12 purposively selected informants from two villages in the Tana Toraja Regency. The findings indicate that the Toraja people inherit and manage land and Tongkonan properties as cultural heritage from their ancestors. Land transfer practices consider dedication to parents and contributions to customary ceremonies. The registration process for indigenous land is conducted in the Ulayat land registry, reflecting the land's existence. The findings emphasize that the indigenous community's land and property management system is crucial to their recognition and respect. This underscores the importance of understanding and respecting customary practices in the context of cultural preservation and indigenous rights. 
Masyarakat adat memiliki tradisi dan identitas budaya luhur dalam mengelola tempat tinggal serta lingkungan teritorialnya secara berkelanjutan. Seiring dengan meningkatnya pembangunan fisik, ekonomi dan sosial, masyarakat adat semakin kesulitan mendapatkan pengakuan dan penghormatan atas hak-hak adatnya dari pemerintah. Penelitian ini bertujuan menyoroti sistem pengelolaan tanah dan harta pusaka Masyarakat Adat Tana Toraja yang penting untuk pengakuan hak adat mereka. Dengan metode kualitatif, melalui wawancara dan observasi, penelitian ini melibatkan 12 narasumber secara purposive dari dua desa di Kabupaten Tana Toraja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat Toraja mewarisi dan mengelola tanah serta properti Tongkonan sebagai warisan budaya dari nenek moyang mereka. Praktik pengalihan tanah dilakukan dengan mempertimbangkan pengabdian kepada orang tua dan kontribusi pada upacara adat. Proses pendaftaran tanah adat dilakukan pada daftar tanah ulayat, mengikuti keberadaan tanahnya. Temuan menekankan bahwa sistem pengelolaan tanah dan harta masyarakat adat merupakan kunci untuk pengakuan dan penghormatan terhadap mereka. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami dan menghargai praktik adat dalam konteks perlindungan budaya dan hak-hak masyarakat adat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-05-03</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/54</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.54</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 35-54</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/54/37</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Sherly Evitasari, Agina Syafira, Raden Deden Dani Saleh</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/55</identifier>
				<datestamp>2023-10-30T21:47:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pembangunan Kembali Pasca Tsunami Aceh di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh: Analisis Spasial dan Sektoral</dc:title>
	<dc:creator>Ningrum, Fatimaharani Annisa Septiya</dc:creator>
	<dc:creator>Amalia, Relinda Resi Yuni</dc:creator>
	<dc:creator>Kusmiarto, Kusmiarto</dc:creator>
	<dc:creator>Dharmawan, Arif</dc:creator>
	<dc:creator>Wahananta, Benanda Maulana</dc:creator>
	<dc:creator>Ariks, Elisabeth Yulanda</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pembangunan pemukiman pasca bencana</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">tsunami Aceh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">google earth pro</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">supervised maximum likelihood</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">mitigasi bencana</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agraria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Malaysia, Thailand, Indonesia, and Myanmar were hit by the Aceh tsunami. Indonesia has worked with other developed nations to restore construction, one of the most visible sectors. Meuraxa District in Banda Aceh City is one of the districts witnessing strong regional growth despite the presence of tsunami-prone zones. The purpose of this study is to review the redevelopment of settlements that occurred after the Aceh Tsunami without paying attention to spatial plans and disaster-prone zones. This study employs quantitative methodologies in conjunction with a descriptive approach, utilizing a mosaic of remote sensing satellite photos from Google Earth Pro. The supervised maximum likelihood approach was used in conjunction with the land cover categorization scheme from Indonesian National Standard 7645:2010. Based on the thematic map that has been created, 90% of the entire area of Meuraxa District, which was damaged by the Aceh tsunami. Furthermore, substantial regional development along the seaside continued to take place over the next five years. Until 2021, regional development projects in Meuraxa District have become increasingly crowded and have converted regions that serve as natural buffer zones. This study finds that regional governments and local communities must influence regional spatial planning for space emphasis and sector harmony.
Tsunami Aceh telah meluluhlantakkan kawasan negara-negara di Asia Tenggara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Konstruksi merupakan di antara sektor yang paling jelas terdampak dan pemerintah Indonesia telah berupaya memulihkan sektor tersebut dengan menggandeng beberapa negara maju. Kecamatan Meuraxa di Kota Banda Aceh merupakan salah satu kecamatan yang berkembang pesat, namun kurang memperhatikan keberadaan zona rawan bencana tsunami. Penelitian ini bertujuan mengkaji pembangunan kembali permukiman yang terjadi pasca Tsunami Aceh yang membangun tanpa memperhatikan rencana tata ruang dan zona rawan bencana. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan memanfaatkan mozaik citra satelit penginderaan jauh dari google earth pro. Penerapan teknik supervised maximum likelihood menggunakan skema klasifikasi penutup lahan dari Standar Nasional Indonesia 7645:2010 berhasil memetakan 90% dari total luas Kecamatan Meuraxa telah hancur akibat tsunami Aceh pada 2004. Selanjutnya, lima tahun periode selanjutnya terjadi konstruksi pembangunan wilayah yang masif di dekat pantai. Hingga tahun 2021, perkembangan dan pemulihan konstruksi pembangunan wilayah di Kecamatan Meuraxa semakin padat dan mengonversi areal yang difungsikan sebagai areal penyangga alami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat setempat harus memedomani rencana tata ruang wilayah yang ada agar perizinan pemanfaatan ruang terarah dan terjadi keserasian antar sektor.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/55</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i2.55</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi; 81-98</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/55/28</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Fatimaharani Annisa Septiya Ningrum, Relinda Resi Yuni Amalia, Kusmiarto Kusmiarto, Arif Dharmawan, Benanda Maulana Wahananta, Elisabeth Yulanda Ariks</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/59</identifier>
				<datestamp>2023-10-30T21:47:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Mengkaji Potensi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Tertib Pertanahan</dc:title>
	<dc:creator>Arnowo, Hadi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pengawasan, pengaturan, persetujuan, pemberian hak atas tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pengendalian pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Suitability of Space Utilization Activities (KKPR) is one of the permits for space utilization plans as well as a basis for acquiring land by business actors or the community. However, how effectively the KKPR can function as a basis for regulating the control, ownership, use, and utilization of land so as not to cause land problems still remains an issue. The aim of this research is to determine the land control indicators contained in the suitability of space utilization activities as a condition for acquiring land. The research method used is descriptive-qualitative, which involves extracting data from regulations and scientific articles and analyzing it descriptively. The result of the study was the approval of the KKPR to become an instrument of land control through restrictions related to the utilization and use of land. The requirements in the KKPR application are in the form of suitability for spatial planning, land ownership and control limits, as well as land use and utilization. Land control runs well if the applicant fulfills all the requirements in the KKPR so that there are no violations in the use and utilization of land. Another form of land control is the issuance of a decision letter granting rights, which must include KKPR requirements related to the use and utilization of land in the provisions.
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) merupakan salah satu perizinan rencana pemanfaatan ruang sekaligus sebagai dasar untuk memperoleh tanah oleh para pelaku usaha atau masyarakat. Namun demikian, seberapa efektif KKPR dapat berfungsi sebagai dasar pengaturan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah agar tidak menimbulkan masalah pertanahan masih menyisakan persoalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indikator pengendalian pertanahan yang terdapat dalam Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang sebagai syarat untuk memperoleh tanah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menggali data dari peraturan dan artikel ilmiah serta menganalisisnya secara deskriptif. Hasil dari kajian adalah persetujuan KKPR menjadi instrumen pengendalian pertanahan melalui pembatasan terkait pemanfaatan dan penggunaan tanah. Persyaratan di dalam permohonan KKPR berupa kesesuaian tata ruang, batas luas pemilikan dan penguasaan tanah serta pemanfaatan dan penggunaan tanah. Pengendalian pertanahan berjalan dengan baik apabila pemohon memenuhi seluruh persyaratan di dalam KKPR sehingga tidak terjadi pelanggaran dalam penggunaan dan pemanfaatan tanah. Bentuk pengendalian pertanahan lainnya adalah penerbitan surat keputusan pemberian hak harus memasukkan persyaratan KKPR terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan tanah ke dalam ketentuan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/59</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i2.59</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi; 99-112</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/59/29</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Hadi Arnowo</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/61</identifier>
				<datestamp>2023-10-30T21:47:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Sentimen Respons Twitter terhadap Persyaratan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Kantor Pertanahan</dc:title>
	<dc:creator>Darman, Ridho</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lexicon-based</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">natural language processing</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">opinion mining</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">warga internet</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land administration arrangements</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The Indonesian government has issued a policy regarding applications for registration services for the transfer of land rights or ownership rights to apartment units because buying and selling must be accompanied by a photocopy of the BPJS Health participant card. This policy has given rise to various kinds of public opinion, including that of internet residents (netizens) on Twitter and social media. This research aims to determine netizens' responses to this policy. This research uses quantitative methods. Crawling and data analysis use the Python programming language or lexicon-based method with the program execution time before August 19, 2023. The research results show that as many as 57.7% of Twitter users' opinions responded positively to BPJS requirements for service activities at land offices, compared to opinions that responded negatively by as much as 33.1% and neutrally by as much as 9.2%. Based on the source, tweets from government accounts tend to give positive responses, while personal accounts give negative responses. Sentiment analysis can provide valuable insight for the government and related agencies to evaluate and improve public services quickly and practically by examining the views, concerns, and hopes of the community regarding the policies that have been established.
Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pada permohonan pelayanan pendaftaran peralihan hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun karena jual beli harus dilengkapi dengan fotokopi kartu peserta BPJS Kesehatan. Kebijakan tersebut menimbulkan berbagai macam opini masyarakat, termasuk warga internet (netizen) di media sosial twitter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan netizen terhadap kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Crawling dan analisis datanya menggunakan bahasa pemrograman python atau metode lexicon-based dengan waktu execute program sebelum tanggal 19 Agustus 2023. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 57,7% opini pengguna twitter memberikan tanggapan positif terhadap persyaratan BPJS pada kegiatan pelayanan di kantor pertanahan, opini yang menanggapi negatif sebanyak 33,1%, dan netral sebanyak 9,2%. Berdasarkan sumbernya, tweet dari yang berasal dari akun milik pemerintah cenderung memberikan tanggapan positif, sedangkan akun personal memberikan tanggapan negatif. Analisis sentimen dapat memberikan wawasan yang berharga bagi pemerintah dan instansi terkait untuk mengevaluasi serta meningkatkan pelayanan publik secara cepat dan praktis dengan mengkaji pandangan, kekhawatiran, dan harapan masyarakat atas kebijakan yang telah ditetapkan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/61</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i2.61</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi; 113-136</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/61/30</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Ridho Darman</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/62</identifier>
				<datestamp>2023-10-30T21:47:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Tumpang Tindih Tanah Antara Hak Guna Usaha dan Hak Milik</dc:title>
	<dc:creator>Rizaldi, Muhammad </dc:creator>
	<dc:creator>Mujiburohman, Dian Aries</dc:creator>
	<dc:creator>Pujiriyani, Dwi Wulan </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hak Guna Usaha</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Mediasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sengketa Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tumpang Tindih Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hak Guna Usaha</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Mediasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sengketa tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tumpang Tindih Tanah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">One big problem that needs to be fixed is the growing number of land cases. It could slow down current development projects if it is not handled properly. This research aims to conduct an in-depth analysis of HGU (Hak Guna Usaha) land disputes and property rights in Mendala Village, Ogan Komering Ulu Regency, as well as identify the most appropriate and relevant alternative solutions. The research method used is qualitative research with descriptive methods. The research results show that there are various settlement models that have been proposed, but mediation appears to be the most important option. This approach has the potential to achieve a solution that benefits both parties, reduces costs, and avoids the risk of future problems. Apart from mediation, other alternative solutions such as compensation, re-determination of land boundaries, exclusion of enclaved land, or exclusion of new land are options worth considering. A company's decision to choose mediation is based on consideration of financial and time constraints that may arise in the course of litigation. Apart from that, understanding the social relations that have been established with the community is also an important factor in achieving the process of resolving disputes between the company and the community.
Salah satu permasalahan besar yang perlu diperbaiki adalah meningkatnya kasus pertanahan. Hal ini dapat memperlambat proyek pembangunan yang ada jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap sengketa tanah HGU (Hak Guna Usaha) dan hak milik di Desa Mendala, Kabupaten Ogan Komering Ulu, serta mengidentifikasi alternatif penyelesaian yang paling tepat dan relevan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menujukan bahwa terdapat berbagai model penyelesaian yang telah diajukan, namun mediasi tampak menjadi opsi yang paling diutamakan. Pendekatan ini memiliki potensi untuk mencapai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, mengurangi biaya, dan menghindari risiko masalah di masa depan. Selain mediasi, alternatif penyelesaian lain seperti ganti rugi, penetapan ulang batas tanah, pengeluaran lahan enklave, atau pembebasan lahan baru menjadi opsi yang layak dipertimbangkan. Keputusan perusahaan untuk memilih mediasi didasarkan pada pertimbangan kendala finansial dan waktu yang mungkin timbul dalam jalur litigasi. Selain itu, pemahaman terhadap hubungan sosial yang telah terjalin dengan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mengarahkan proses penyelesaian sengketa pertanahan antara Perusahaan dan masyarakat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/62</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i2.62</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi; 137-151</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/62/33</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Muhammad  Rizaldi, Dian Aries Mujiburohman, Dwi Wulan  Pujiriyani</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/63</identifier>
				<datestamp>2023-10-30T21:47:55Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kelayakan Nilai Ganti Kerugian Tanah Musnah Sebagai Penanganan Dampak Sosial Pada Pengadaan Tanah</dc:title>
	<dc:creator>Wibawa, Satriya Parama Putra</dc:creator>
	<dc:creator>Prasetyo, Priyo Katon</dc:creator>
	<dc:creator>Sudibyanung, Sudibyanung</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Dana Kerohiman</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ganti Kerugian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tanah Musnah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pengadaan tanah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Development can include land acquisition since it compensates entitled communities fairly. The Demak Regency Land Office and evaluation had trouble calculating compensation for coastal land parcels obliterated by tidal floods. This research will assess the field's physical state and the process for determining compensation for obliterated land to manage social repercussions with rules and economic calculations. This study employs quantitative descriptive research. According to research, an income capitalization technique based on market value is more practical than Presidential Regulation (Perpres) Number 52 of 2022 for assessing compensation for obliterated land. Different uses of devastated land in Bedono Village, Purwosari Village, and Sriwulan Village affect the revenue capitalization approach's kerohiman fund acquisition. According to Presidential Decree No. 52 of 2022, Bedono Village receives less compensation for obliterated land than Purwosari Village, however the income capitalization technique yields the reverse. For precise and reliable findings, the appraiser must choose a technique to calculating compensation for obliterated land.
Pengadaan tanah menjadi pilihan dalam pembangunan dengan memberikan ganti kerugian yang layak dan adil bagi masyarakat yang berhak. Kantor Pertanahan Kabupaten Demak dan appraisal mengalami kendala dalam menentukan besar nilai ganti kerugian terhadap bidang-bidang tanah di wilayah pesisir yang musnah karena tertutup banjir rob. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan, kesesuaian kondisi fisik lapang  dan mekanisme perhitungan nilai ganti kerugian tanah musnah sebagai bentuk penanganan dampak sosial dengan peraturan yang berlaku dan perhitungan secara ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Temuan penelitian menyebutkan bahwa penentuan besaran nilai ganti kerugian tanah musnah dengan pendekatan kapitalisasi pendapatan berdasarkan nilai pasar lebih layak daripada Peraturan Presiden (Perpres) No. 52 Tahun 2022. Kondisi fisik tanah musnah di Desa Bedono, Desa Purwosari dan Desa Sriwulan terdapat perbedaan dalam pemanfaatannya, sehingga mempengaruhi perolehan besaran dana kerohiman berdasarkan pendekatan kapitalisasi pendapatan. Mekanisme perhitungan besaran nilai ganti kerugian tanah musnah di Desa Bedono lebih kecil dari Desa Purwosari jika mendasarkan pada Perpres No. 52 Tahun 2022, namun berdasarkan pendekatan kapitalisasi pendapatan memperoleh hasil sebaliknya. Oleh karena itu, appraisal harus bisa menentukan pilihan dalam menggunakan pendekatan penilaian ganti kerugian tanah musnah demi hasil yang tepat dan akurat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2023-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/63</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v3i2.63</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi; 152-172</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/63/32</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Satriya Parama Putra Wibawa, Priyo Katon Prasetyo, Sudibyanung Sudibyanung</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/80</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perubahan Profil Kemiskinan Masyarakat Pasca Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap: Pendekatan Aset Penghidupan</dc:title>
	<dc:creator>Augustina, Prasetya Hanif</dc:creator>
	<dc:creator>Pujiriyani, Dwi Wulan </dc:creator>
	<dc:creator>Farid, Abdul Haris</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">penghidupan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pentagon aset</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">kemiskinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">sosiologi agraria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pendekatan aset</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Complete Systematic Land Registration or PTSL is a program that aims to provide legal certainty and legal protection of land rights owned by the community so that it can improve the welfare and prosperity of the community. This paper aims to see the impact of PTSL through community livelihood assets. This article will answer the problem: What is the impact of the PTSL program on community asset management in Karangwangi Village? and What is the potential of the PTSL program in changing the poverty profile of the community in Karangwangi Village? This paper focuses on analyzing the livelihood assets of PTSL participating communities in Karangwangi Village, Depok District, Cirebon Regency. This research uses quantitative and qualitative methods to obtain data related to livelihood assets. The quantitative method was carried out through a survey of 94 respondents, using a questionnaire which was then analyzed using the livelihood asset pentagon. For the qualitative method, it was carried out through interviews with respondents. The results of the research show that there has been a change in the management of community assets from being productive to being both productive and consumptive. There was an increase in 3 (three) of the 5 (five) livelihood assets, namely natural assets, physical assets and financial assets. The PTSL program opens access to financial institutions. The poverty profile experiences change due to people's ability to not only meet minimum living needs (survival) but also social needs and accumulate capital.
Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap atau PTSL merupakan program yang bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk melihat dampak PTSL melalui aset penghidupan masyarakat. Tulisan ini akan menjawab permasalahan: Bagaimana dampak program PTSL pada perubahan pengelolaan aset masyarakat di Desa Karangwangi? serta Bagaimana potensi program PTSL dalam mengubah profil kemiskinan masyarakat di Desa Karangwangi?. Tulisan ini memfokuskan analisis aset penghidupan masyarakat peserta PTSL di Desa Karangwangi, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan data terkait aset penghidupan. Metode kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 94 responden, menggunakan kuesioner yang selanjutnya dilakukan analisis menggunakan pentagon aset penghidupan. Untuk metode kualitatif, dilakukan melalui wawancara terhadap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan pengelolaan aset masyarakat dari yang semula produktif, menjadi produktif sekaligus konsumtif. Terdapat peningkatan pada 3 (tiga) dari 5 (lima) aset penghidupan yaitu aset alam, aset fisik dan aset finansial.  Program PTSL membuka akses terhadap lembaga keuangan. Profil kemiskinan mengalami perubahan dari kemampuan masyarakat yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup minimum (survival) tetapi juga kebutuhan sosial dan penumpukan modalnya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/80</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.80</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 1-15</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/80/34</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Prasetya Hanif Augustina, Dwi Wulan  Pujiriyani, Abdul Haris Farid</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/91</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kajian Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Non-Pertanian di Kecamatan Junrejo, Kota Batu</dc:title>
	<dc:creator>Putri, Atha Wina Clarissa</dc:creator>
	<dc:creator>Suharto, Eko</dc:creator>
	<dc:creator>Sugiasih, Sugiasih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alih Fungsi Lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Penggunaan Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">RTRW</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kesesuaian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alih Fungsi Lahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Development that continues to increase, especially in the housing sector and tourism industry in Junrejo District, Batu City, East Java Province, has resulted in massive land conversion activities occurring, especially the reduction of agricultural land to non-agricultural land. It turns out that some of the land conversions are not in accordance with the regional spatial planning (RTRW) that has been determined. This study aims to determine the suitability of land conversion to RTRW directions in the Junrejo District area and the factors that influence the occurrence of land conversion. The method used in this research is a quantitative method with a spatial approach and a descriptive qualitative method. The results of this research are: (1) there is suitability for land conversion to the RTRW covering an area of 54.47 hectares, nonconformity covering an area of 24.77 hectares, and supporting the RTRW direction covering an area of 104.78 hectares; (2) factors causing land conversion in Junrejo District are the need for housing, increasing land prices, and the choice to work outside the agricultural sector.
Pembangunan yang terus meningkat terutama pada sektor perumahan dan industri pariwisata di Kecamatan Junrejo, Kota Batu Provinsi Jawa Timur, membuat aktivitas alih fungsi lahan masif terjadi, terutama penyusutan lahan pertanian ke non pertanian. Ternyata sebagian alih fungsi lahan tersebut tidak sesuai  dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah ditetapkan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian alih fungsi lahan terhadap arahan RTRW di wilayah Kecamatan Junrejo dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan spasial dan metode kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) terdapat kesesuaian alih fungsi lahan terhadap RTRW seluas 54,47 hektar, ketidaksesuaian seluas 24,77 hektar dan mendukung arahan RTRW seluas 104,78 hektar; (2) faktor penyebab terjadinya alih fungsi lahan di Kecamatan Junrejo adalah kebutuhan tempat tinggal, harga lahan yang meningkat, dan pilihan bekerja di luar sektor pertanian.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-05-02</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/91</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.91</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 16-34</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/91/35</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Atha Wina Clarissa Putri, Eko Suharto, Sugiasih Sugiasih</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/93</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) Berbasis Dusun Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengelolaan Lahan</dc:title>
	<dc:creator>Putri, Nabila Isnaen</dc:creator>
	<dc:creator>Amrullah, M. Nur Kamila</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sistem Informasi Geografis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Penggunaan Lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Data Spasial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kebijakan dan Program Pembangunan Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Land management in a region still faces internal (domestic) and external challenges. The limited natural resources necessitate innovative use of Geographic Information Systems (GIS) technology to make land management more effective and efficient. This paper aims to describe findings on the use of GIS technology in land management and to analyze the land potential in Mergan Hamlet. The research method used is a descriptive qualitative method. Field-based land use data were obtained from observations and field surveys, while secondary data were derived from literature studies. Subsequently, data analysis was conducted qualitatively using a spatial approach. The research results show that there are lands that still require monitoring and handling to optimize land use. This paper concludes that the use of GIS technology can capture, store, examine, and display land data with spatial references on a single map. This enables stakeholders to more easily view, analyze, and manage natural and artificial resources optimally.
Pengelolaan lahan pada suatu daerah masih menghadapi tantangan internal (domestik) dan eksternal. Terbatasnya sumber daya alam memerlukan inovasi penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengefektif dan mengefisienkan pengelolaan lahannya. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan temuan atas penggunaan teknologi SIG dalam pengelolaan lahan serta menganalisis potensi lahan yang ada di Dusun Mergan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Data penggunaan lahan berbasis bidang diperoleh dari hasil observasi dan survei lapangan, sedangkan data sekundernya berasal dari studi kepustakaan. Selanjutnya, analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lahan yang masih memerlukan pengawasan dan penanganan untuk optimalisasi penggunaan lahan. Tulisan ini menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi SIG mampu menangkap, menyimpan, memeriksa, dan menampilkan data pertanahan bereferensi spasial pada satu peta. Hal ini memungkinkan bagi pemangku kepentingan untuk lebih mudah melihat, menganalisis dan mengelola sumber daya alam/buatan dengan optimal.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-08-23</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/93</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.93</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 85-100</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/93/42</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Nabila Isnaen Putri, M. Nur Kamila Amrullah</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/97</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Dampak Urbanisasi pada Lahan Pertanian: Analisis Spasial di Kecamatan Godean dan Mlati Kabupaten Sleman</dc:title>
	<dc:creator>Solihah, Fitri Nur</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Use Change</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Urbanization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Spatial Patterns</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agglomeration</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Food Security</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Use Change</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The area of agricultural land in Godean District and Mlati District experienced a significant decline from 2015 to 2022 due to urbanization, amounting to 122 ha and 175.01 ha, respectively. Apart from that, in these two sub-districts, part of the area is part of the Yogyakarta Urban Area (KPY), and the other part is a strategic area with a food security function. This research aims to identify the spatial correlation of agricultural to non-agricultural land conversion in Godean District and Mlati District. Identification of spatial correlations of land conversion was carried out using Average Nearest Neighbor, Spatial Autocorrelations (Morans I), and Cluster and Outlier (Anselin Local Morans I) analysis. The results of the research show that agricultural land that has experienced land conversion in both locations has a tendency to be clustered with a longitudinal spreading pattern (ribbon development). Tlogoadi Village in Mlati District shows a high-sspatial relationship, and Sidoluhur and Sidoagung Villages show a low-sspatial relationship. It was concluded that the land undergoing conversion at the research location has a fairly strong spatial correlation and characteristics that tend to be similar.
Luas lahan pertanian di Kecamatan Godean dan Kecamatan Mlati mengalami laju penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2015-2022 akibat arus urbanisasi, masing-masing sebesar 122 Ha dan 175,01 Ha. Selain itu, pada kedua kecamatan ini sebagian wilayahnya menjadi bagian dari Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) dan sebagian lainnya menjadi kawasan strategis dengan fungsi ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi spasial alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Kecamatan Godean dan Kecamatan Mlati. Identifikasi korelasi spasial alih fungsi lahan dilakukan dengan analisis Average Nearest Neighbor, Spatial Autocorrelations (Morans I) dan Cluster and Outlier (Anselin Local Morans I). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pertanian yang mengalami alih fungsi lahan di kedua lokasi mempunyai kecenderungan mengelompok (clustered) dengan pola perembetan memanjang (ribbon development). Desa Tlogoadi di Kecamatan Mlati menunjukkan hubungan spasial High-High serta Desa Sidoluhur dan Sidoagung menunjukkan hubungan spasial Low-Low. Disimpulkan bahwa lahan yang mengalami alih fungsi pada lokasi penelitian memiliki korelasi spasial yang cukup kuat dan karakteristik yang cenderung memiliki kesamaan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-05-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/97</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.97</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 55-69</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/97/40</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Fitri Nur Solihah</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/98</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perlakuan Tanah Adat dan Tanah Negara dalam Redistribusi Tanah di Papua Barat</dc:title>
	<dc:creator>Putri Shenia, Aurellia </dc:creator>
	<dc:creator>Salim, M. Nazir</dc:creator>
	<dc:creator>Mujiburohman, Dian Aries</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Customary land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land redistribution</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kokoda Tribe</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maibo Village</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reforma Agraria</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The expansion of Domine Eduard Osok (DEO) Airport forced the Kokoda tribe community in Sorong City, West Papua, to relocate to Maibo Village. However, community control over plots of land in the village is unclear because it is an area with former cultivation rights. This study aims to clarify and resolve the issue of control of the Kokoda Tribe community over former HGU areas within the framework of the redistribution of former HGU land belonging to indigenous communities. The study employs a historical method and a qualitative descriptive approach. The research results reveal two distinct perspectives on the treatment and control of the former HGU land in Maibo Village, slated for designation as a land reform object. According to the land office, the land has returned to state land, and according to the local indigenous community, the land has returned to customary land. The land office successfully resolved the land control issue and redistributed the land to the Kokoda Tribe, despite differences in the treatment of former HGU land in Maibo Village. This research concludes that the national land law system still applies partially, especially to areas where there are traditional communities and very strong customary law. Ideally, the state should consider general arrangements to ensure appropriate and mutually beneficial protection for indigenous peoples. 
Masyarakat adat Suku Kokoda di Kota Sorong, Papua Barat, tergusur ke Kampung Maibo akibat pelebaran Bandara Domine Eduard Osok (DEO). Namun demikian, penguasaan masyarakat atas bidang-bidang tanah di Kampung Maibo hanya sebatas penguasaan fisik dan belum secara yuridis karena merupakan wilayah bekas Hak Guna Usaha (HGU). Studi ini bertujuan untuk memperjelas dan mendudukkan persoalan penguasaan masyarakat Suku Kokoda atas bidang-bidang tanah dalam wilayah bekas HGU. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua persepsi terhadap perlakuan penguasaan tanah bekas HGU di Kampung Maibo yang akan ditetapkan sebagai Tanah Objek Reforma Agraria. Menurut kantor pertanahan, tanah tersebut kembali menjadi tanah negara dan menurut masyarakat adat setempat, tanah tersebut kembali menjadi tanah adat. Meskipun terdapat dua perbedaan perlakuan terhadap tanah bekas HGU di Kampung Maibo, namun persoalan penguasaan tanah tersebut mampu diselesaikan oleh kantor pertanahan dan telah diredistribusikan kepada masyarakat Suku Kokoda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem hukum tanah nasional masih berlaku parsial, terutama terhadap wilayah-wilayah yang memiliki ikatan masyarakat adat dan hukum adat yang sangat kuat. Idealnya, negara memikirkan pengaturan secara umum agar perlindungan terhadap masyarakat adat dapat diwujudkan secara tepat dan saling menguntungkan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-05-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/98</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i1.98</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 1 (2024): Widya Bhumi; 70-84</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/98/41</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Aurellia  Putri Shenia, M. Nazir Salim, Dian Aries Mujiburohman</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/102</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Diversifikasi Usaha untuk Keberlanjutan Lingkungan dalam Kerangka Reforma Agraria melalui Pertanian Karbon</dc:title>
	<dc:creator>Arnowo, Hadi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Perubahan Iklim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Perdagangan Karbon</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pertanian Karbon</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">reforma agraria</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The accelerating pace of climate change has prompted many countries to reduce carbon emissions through carbon farming. Carbon farming plays a crucial role in climate change mitigation by absorbing carbon while also offering economic benefits to farmers. This study aims to examine the mechanisms of carbon farming practices within the framework of agrarian reform. A descriptive qualitative method was employed, collecting data from relevant regulations, scientific papers, and activity reports. Carbon farming is implemented through agroforestry, forest land farming, and environmentally friendly mixed farming. Land designated for carbon farming can be granted rights according to the type of subject. On a large scale, communal carbon farming or partnerships with private companies through nucleus-plasma schemes provide direct financial benefits. Meanwhile, small-scale carbon farming enhances soil fertility and promotes sustainable agriculture. Although carbon farming has yet to fully benefit farmers, it holds potential as part of a sustainable farming movement and land conservation efforts. Sustainable farming aligns with agrarian reform by ensuring the continuous use of land. Therefore, farmers involved in agrarian reform can also reap the rewards of carbon farming.
Percepatan perubahan iklim global mendorong banyak negara untuk mengurangi emisi karbon melalui praktik pertanian karbon. Pertanian karbon berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi petani. Kajian ini bertujuan menelaah mekanisme pelaksanaan pertanian karbon oleh masyarakat dalam kerangka reforma agraria. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data dari peraturan terkait, tulisan ilmiah, dan laporan kegiatan. Pertanian karbon dilakukan melalui agroforestri, pertanian lahan hutan, dan pertanian campuran yang ramah lingkungan. Lahan untuk pertanian karbon dapat diberikan hak sesuai subjeknya. Skala luas pertanian karbon yang dikelola secara komunal atau melalui kerja sama dengan perusahaan swasta menggunakan pola inti-plasma dapat memberikan keuntungan langsung. Sementara itu, pertanian karbon skala terbatas bermanfaat bagi kesuburan tanah dan pertanian berkelanjutan. Meskipun pertanian karbon belum memberikan manfaat besar bagi petani, konsep ini dapat menjadi bagian dari gerakan pertanian berkelanjutan dan pemanfaatan lahan secara lestari. Pertanian berkelanjutan relevan dengan reforma agraria, yang bertujuan menjamin pemanfaatan lahan secara terus menerus, sehingga petani peserta reforma agraria juga dapat memperoleh manfaat dari praktik pertanian karbon.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-08</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/102</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.102</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 122-135</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/102/44</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Hadi Arnowo</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/104</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tinjauan Bibliometrik pada Google Scholar: Tren Publikasi tentang Reforma Agraria di Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Amri, Ikhwan</dc:creator>
	<dc:creator>Widura, Elsa</dc:creator>
	<dc:creator>Larasati, Fauziah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Google Scholar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reforma Agraria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tinjauan Bibliometrik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tren Publikasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">agrarian reform</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Agrarian reform has long interested scholars from numerous fields, but its research development has not been mapped. This study uses bibliometrics to discover Indonesian agricultural reform research trends. Publish or Perish and Google Scholar database were used to acquire data. Data analysis includes data profiles and research trends, top publication, author, and cited article sources, and text mapping. Researchers found 345 documents from 1962–2024, with research trends rising after 2018. BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan has the most articles on this topic, and MN Salim contributes the most. The most-cited article is &quot;Claiming the Grounds for Reform: Agrarian and Environmental Movements in Indonesia&quot;. Bibliometric network analysis identified four abstract term clusters: legislation and policy, institutions and actor collaboration, agrarian reform program implementation, and others. These findings are useful for Indonesian agrarian reform scholars and practitioners.
Reforma agraria sejak lama telah menarik perhatian para peneliti dari berbagai disiplin, akan tetapi belum ada yang memetakan perkembangannya penelitiannya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren dan perkembangan penelitian mengenai reforma agraria di Indonesia melalui tinjauan bibliometrik. Pengumpulan data penelitian melibatkan Software Publish or Perish dan mengandalkan database Google Scholar. Analisis data mencakup tiga bagian yaitu: (1) profil data dan tren penelitian, (2) sumber publikasi utama, penulis terkemuka, dan artikel dengan sitasi terbanyak, serta (3) pemetaan teks. Sebanyak 345 dokumen dari tahun 1962-2024 berhasil diidentifikasi, dengan tren penelitian meningkat signifikan sejak tahun 2018. Jurnal dengan jumlah artikel terbanyak pada topik ini ditemukan pada BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan, sementara penulis yang paling banyak kontribusinya adalah MN Salim. Artikel yang paling berpengaruh dari segi sitasi berjudul &quot;Claiming the Grounds for Reform: Agrarian and Environmental Movements in Indonesia&quot;. Berdasarkan analisis tinjauan bibliometrik berbasis jaringan, ada empat klaster yang terbentuk dari kumpulan istilah dalam abstrak: (1) hukum dan kebijakan, (2) kelembagaan dan kolaborasi antar aktor, (3) implementasi program reforma agraria, dan (4) lainnya. Temuan ini memberikan wawasan yang berharga bagi para akademisi dan praktisi yang terlibat dalam studi dan implementasi reforma agraria di Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-08</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/104</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.104</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 101-121</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/104/43</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Ikhwan Amri, Elsa Widura, Fauziah Larasati</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/105</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Dinamika Legalisasi Tanah Desa di Kabupaten Sleman, Yogyakarta: Pengaturan, Pelaksanaan, dan Implikasinya</dc:title>
	<dc:creator>Prasetya, Dimas Bayu Candra</dc:creator>
	<dc:creator>Mujiburohman, Dian Aries</dc:creator>
	<dc:creator>Supama, Yohanes</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tanah Desa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hak Anggaduh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kasultanan dan Pakualaman</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Rijksblad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hak Atas Tanah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Legal uncertainty in the legalization of village land in DIY arises from differences between national and regional regulations. This study examines the legalization of village land in Sleman, Yogyakarta, from the aspects of regulation, implementation, and its implications. The research method employed is a normative-empirical legal analysis focusing on regulations related to village land and their ontological basis. The findings show that the regulation of village land in the Special Region of Yogyakarta (DIY) has undergone changes since the pre-independence era, during which land was under the authority of the Kasultanan and Pakualaman with limited usage rights. After independence, DIY gained special rights in agrarian management, reinforced by the DIY Privileges Law (UUK). However, the implementation of the Basic Agrarian Law (UUPA) in DIY was delayed until 1984. Significant changes in village land regulations, from the 2008 to 2024 Governor’s Regulations, reveal inconsistencies with national land laws and the Village Law. This creates challenges in legal synchronization, where the UUK, as lex specialis, may lead to legal uncertainty in the legalization and certification of village land. These findings provide valuable input for policy development to strengthen the legal framework for village land and improve community welfare through better land management.
Ketidakpastian hukum dalam legalisasi tanah desa di DIY timbul dari perbedaan pengaturan nasional dan daerah. Penelitian ini mengkaji legalisasi tanah desa di Sleman, Yogyakarta, dari aspek pengaturan, pelaksanaan, dan implikasinya. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif-empiris dengan analisis terhadap peraturan terkait tanah desa dan dasar ontologis penetapannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tanah desa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mengalami perubahan sejak masa pra-kemerdekaan, di mana tanah berada di bawah otoritas Kasultanan dan Pakualaman dengan hak pakai terbatas. Setelah kemerdekaan, DIY memperoleh hak istimewa dalam pengaturan agraria, diperkuat oleh Undang-Undang Keistimewaan DIY (UUK DIY). Namun, implementasi Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) di DIY baru terlaksana pada 1984. Peraturan tanah desa mengalami perubahan signifikan dari Peraturan Gubernur DIY tahun 2008 hingga 2024, mencerminkan ketidaksesuaian dengan hukum nasional dan Undang-Undang Desa. Hal ini menimbulkan tantangan dalam sinkronisasi hukum, di mana UUK DIY sebagai lex specialis berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dalam legalisasi dan sertifikasi tanah desa. Temuan ini memberikan masukan bagi kebijakan untuk memperkuat kerangka hukum tanah desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan tanah yang lebih baik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-08</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/105</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.105</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 136-158</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/105/45</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Dimas Bayu Candra Prasetya, Dian Aries Mujiburohman, Yohanes Supama</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/108</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Alih Fungsi Lahan Terhadap Ketahanan Pangan, Lingkungan, dan Keberlanjutan Pertanian di Kabupaten Sleman</dc:title>
	<dc:creator>Putri, Indriana Diani</dc:creator>
	<dc:creator>Martanto, Rochmat</dc:creator>
	<dc:creator>Junarto, Rohmat</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alih fungsi lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ketahanan pangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lahan pertanian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land use</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Land conversion in Sleman Regency is on the rise, driven by population growth, economic development, and urbanization, posing risks to food security, farmer welfare, and environmental sustainability. This study seeks to assess the effects of land conversion and effective management strategies to ensure sustainable food security. The employed methods consist of image interpretation, observation, interviews, and document analysis, complemented by quantitative analysis to assess changes in land area and distribution patterns of land conversion. The research findings indicate that land conversion in Sleman exhibits a clustered pattern, leading to a decrease in agricultural land area. This reduction impacts food security, environmental quality, and biodiversity while simultaneously increasing land value and the cost of living. Food security zoning has been categorized into three distinct types: convertible land zones, characterized by low food security, located in Depok, Ngaglik, and Mlati; buffer land zones found in Godean, Ngemplak, and Berbah; and land designated for sustainable agriculture, situated in Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Kalasan, Prambanan, Seyegan, Minggir, and Moyudan. Strategies for controlling land conversion encompass spatial planning regulations, LP2B protection, cross-sector collaboration, community participation, and regular monitoring and evaluation by pertinent agencies. Land conversion adversely affects food security and environmental conditions in Sleman. Effective control strategies are essential for achieving a balance among development, environmental sustainability, and community welfare.
Alih fungsi lahan di Kabupaten Sleman meningkat akibat pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, dan urbanisasi, yang mengancam ketahanan pangan, kesejahteraan petani, serta keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan dan strategi pengendalian yang tepat untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi interpretasi citra, observasi, wawancara, dan studi dokumen, dengan analisis kuantitatif untuk mengukur perubahan luas lahan dan pola persebaran alih fungsi lahan. Hasil penelitian menunjukkan alih fungsi lahan di Sleman berpola mengelompok, mengakibatkan pengurangan luas lahan pertanian yang mempengaruhi ketahanan pangan, kualitas lingkungan, keanekaragaman hayati, serta peningkatan nilai tanah dan biaya hidup. Zonasi ketahanan pangan diidentifikasi menjadi tiga: Zona Convertible Land (ketahanan pangan rendah) di Depok, Ngaglik, dan Mlati; Zona Buffer Land di Godean, Ngemplak, dan Berbah; serta Zona Land For Sustainable (pertanian berkelanjutan) di Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Kalasan, Prambanan, Seyegan, Minggir, dan Moyudan. Strategi pengendalian alih fungsi lahan meliputi peraturan tata ruang, perlindungan LP2B, kolaborasi lintas sektor, partisipasi masyarakat, serta pengawasan dan evaluasi rutin oleh instansi terkait. Alih fungsi lahan berdampak negatif pada ketahanan pangan dan lingkungan di Sleman. Diperlukan strategi pengendalian yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-11-04</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/108</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.108</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 192-211</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/108/49</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Indriana Diani Putri, Rochmat Martanto, Rohmat Junarto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/109</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Evaluasi Dampak Ketidaksesuaian LSD dengan RTRW Terhadap Pembangunan dan Pertanian di Karanganyar</dc:title>
	<dc:creator>Rosit, Harun All</dc:creator>
	<dc:creator>Aisiyah, Nuraini</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lahan Sawah yang Dilindungi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Rencana Tata Ruang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Development</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The government has implemented a Protected Rice Land (LSD) policy to ensure the preservation of rice fields for national food security and to regulate land conversion. The determination of LSD often diverges from spatial planning (RTR), impacting multiple sectors, including investment and public services. This study seeks to align LSD policies to enhance food security and promote investment, particularly via the issuance of Suitability for Space Utilization Activities (KKPR). This study employs mixed methods to evaluate the compatibility of the LSD with the RTRW in Karanganyar Regency, revealing that 66.63% of the LSD area aligns with the RTR, while 33.37% does not. The Matesih District exhibits a discrepancy of 4.38%. The variations in LSD clauses within Land Technical Considerations (PTP) indicate their influence on KKPR services, with 45.5% of PTP categorized under the LSD area during the period of 2022-2024. Although there is minimal effect on agriculture and development, this discrepancy can be rectified through LSD verification evaluations and the enforcement of stringent policies in non-compliant areas. Recommendations involve reassessing inappropriate LSD areas, standardizing clauses, and offering incentives to ensure alignment of LSD policies with the RTR, thereby enhancing the effectiveness of public services.
Pemerintah telah menerapkan kebijakan Lahan Sawah Terlindung (LSD) untuk menjamin kelestarian lahan sawah demi ketahanan pangan nasional dan mengatur alih fungsi lahan. Penentuan LSD seringkali menyimpang dari perencanaan tata ruang (RTR), sehingga berdampak pada berbagai sektor, termasuk investasi dan pelayanan publik. Kajian ini berupaya menyelaraskan kebijakan LSD untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong investasi, khususnya melalui penerbitan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR). Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) untuk menilai kesesuaian LSD dengan RTRW di Kabupaten Karanganyar, yang menunjukkan bahwa 66,63% wilayah LSD sesuai dengan RTR, sedangkan 33,37% tidak. Kecamatan Matesih menunjukkan kesenjangan sebesar 4,38%. Variasi klausul LSD dalam Pertimbangan Teknis Pertanahan (PTP) menunjukkan pengaruhnya terhadap pelayanan KKPR, dimana 45,5% PTP masuk dalam kawasan LSD pada periode 2022-2024. Meskipun dampaknya minimal terhadap pertanian dan pembangunan, kesenjangan ini dapat diperbaiki melalui evaluasi verifikasi LSD dan penegakan kebijakan yang ketat di wilayah yang tidak patuh. Rekomendasinya mencakup penilaian ulang bidang LSD yang tidak sesuai, standarisasi klausul, dan penawaran insentif untuk memastikan keselarasan kebijakan LSD dengan RTR, sehingga meningkatkan efektivitas layanan publik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/109</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.109</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 159-175</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/109/46</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Harun All Rosit, Nuraini Aisiyah</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/111</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:30Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Transformasi Penggunaan Lahan dan Dampak Sosial Budaya Proyek Reklamasi di Tanjungpinang Kota</dc:title>
	<dc:creator>Dhahlan, Muhammad</dc:creator>
	<dc:creator>Na’afi, Ramadhani Naufal</dc:creator>
	<dc:creator>Nababan, Yosia Putra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pelantar Settlement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Landuse Change</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reclamation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Landuse</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Indonesia, an archipelago with abundant agricultural and marine resources, is witnessing land-use changes due to socio-economic shifts, population increase, and development pressures, notably in coastal areas like Tanjungpinang Kota District. This district's stilt house settlements or fishermen's dwellings must cohabit with the Gurindam 12 (G12) reclamation project, which may influence their development. This study will examine how the G12 reclamation project affected land-use changes and stilt house settlement sustainability. A descriptive quantitative approach using Cellular Automata and Artificial Neural Networks (CA-ANN) predicted land use in 2038. A buffer analysis assessed residential areas' extreme wave disaster risk. The results show significant land-use changes between 2014 and 2023, particularly surrounding stilt houses. Ca-ANN study shows that the G12 reclamation project is affecting settlement patterns, especially in high-risk coastal locations. This study found that the CA-ANN approach accurately identifies land-use change trends and assesses reclamation efforts.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan alam dan wilayah perairan yang diakui dunia menghadapi perubahan penggunaan lahan yang dipicu oleh transformasi sosial-ekonomi, pertumbuhan penduduk, serta tekanan pembangunan, terutama di wilayah pesisir seperti Kecamatan Tanjungpinang Kota. Permukiman di atas air laut (pelantar) ini harus beradaptasi dengan proyek reklamasi Gurindam 12 (G12) yang dilaksanakan oleh pemerintah, yang kemungkinan besar mempengaruhi perkembangan permukiman pelantar tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak proyek reklamasi G12 terhadap perubahan penggunaan lahan dan keberlanjutan permukiman pelantar. Peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan mengintegrasikan Cellular Automata dan Artificial Neural Networks (CA-ANN) untuk memprediksi penggunaan lahan hingga tahun 2038 serta menganalisis kerentanan permukiman pelantar terhadap risiko bencana gelombang ekstrem menggunakan buffer analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode 2014-2023 terjadi perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada kebijakan pengelolaan pesisir dan perencanaan pembangunan berkelanjutan, terutama kehidupan sosial budaya masyarakat pelantar. Analisis menggunakan metode CA-ANN memperkuat temuan ini dan menunjukkan bahwa proyek reklamasi G12 mempengaruhi pola permukiman masyarakat, terutama di daerah pesisir yang berisiko tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode CA-ANN efektif dalam mengidentifikasi pola perubahan lahan dan memberikan gambaran akurat mengenai dampak faktor-faktor seperti proyek reklamasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2024-10-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/111</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v4i2.111</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 4 No. 2 (2024): Widya Bhumi; 176-191</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v4i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/111/47</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Muhammad Dhahlan, Ramadhani Naufal Na’afi, Yosia Putra Nababan</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/120</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Rancang Bangun Aplikasi E-Arsip Pengadaan Tanah dalam Mendukung Pengelolaan Pertanahan Daerah</dc:title>
	<dc:creator>Jauhari, Mahfud</dc:creator>
	<dc:creator>Rahmawati, Ika</dc:creator>
	<dc:creator>Daniswari, Alfiani Putri</dc:creator>
	<dc:creator>Rahmadini, Lisdiana</dc:creator>
	<dc:creator>Rineksi, Trisnanti Widi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Design</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Electronic archives</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Waterfall method</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Information Technology</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The use of information technology in public services, especially in local government agencies in the land sector, has a positive impact on administrative efficiency. This study focuses on the implementation of a digital archive system for managing land acquisition documents at the Yogyakarta City Land and Spatial Planning Service. Conventional methods that have been used so far have caused various problems, including process inefficiencies, document security vulnerabilities, and difficulties in tracking archives. To overcome these problems, an E-Archive application was developed by implementing the Waterfall system development model consisting of the following stages: (1) needs analysis, (2) system design, (3) implementation, (4) testing, and (5) maintenance. This system was built using the PHP programming language for the backend and CSS for the frontend. The results of black box testing showed that all system functions operated according to the specified requirements. The implementation of this system succeeded in increasing data accessibility by 40% and reducing administrative workload by 35%. This study not only presents technical solutions for archive digitization but also provides a digital transformation model that can be adopted by other local government agencies.
Pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan publik, khususnya di instansi pemerintah daerah bidang pertanahan, memberikan dampak positif terhadap efisiensi administrasi. Penelitian ini berfokus pada implementasi sistem arsip digital untuk pengelolaan dokumen pengadaan tanah di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta. Metode konvensional yang selama ini digunakan menimbulkan berbagai masalah, termasuk inefisiensi proses, kerentanan keamanan dokumen, dan kesulitan dalam pelacakan arsip. Untuk mengatasi masalah tersebut, dikembangkan aplikasi E-Arsip dengan menerapkan model pengembangan sistem Waterfall yang terdiri dari tahap: (1) analisis kebutuhan, (2) perancangan sistem, (3) implementasi, (4) pengujian, dan (5) pemeliharaan. Sistem ini dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP untuk backend dan CSS untuk frontend. Hasil pengujian black box menunjukkan seluruh fungsi sistem beroperasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Implementasi sistem ini berhasil meningkatkan aksesibilitas data sebesar 40% dan mengurangi beban kerja administratif hingga 35%. Penelitian ini tidak hanya menyajikan solusi teknis untuk digitalisasi arsip, tetapi juga memberikan model transformasi digital yang dapat diadopsi oleh instansi pemerintah daerah lainnya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-04-09</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/120</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.120</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 19-38</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/120/51</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Mahfud Jauhari, Ika  Rahmawati, Alfiani Putri  Daniswari, Lisdiana  Rahmadini, Trisnanti Widi Rineksi</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/231</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Eksplorasi Pengetahuan Generasi Z mengenai Tradisi Pewarisan Tanah Pusako Tinggi di Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam</dc:title>
	<dc:creator>Ardimay, Bunga Gracella</dc:creator>
	<dc:creator>Alfiandi, Bob</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Knowledge</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Generation Z</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tradition</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ancestral Land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agraria dan Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Fragmentation of ancestral land (pusako tinggi) in West Sumatra is increasing along with population growth, with Generation Z (Gen Z) as the dominant demographic group. This phenomenon has the potential to threaten the sustainability of the customary inheritance tradition if Gen Z, as the recipient of the inheritance, does not understand the tradition of inheriting pusako tinggi land comprehensively. This qualitative study examines the knowledge of Gen Z Nagari Lawang about the inheritance of ancestral land of pusako tinggi. Purposive sampling was used to identify informants through in-depth interviews, participant observation, and document studies. This study found that Gen Z Nagari Lawang is less aware of (1) the method of inheritance when there is a pupus (extinction of the lineage), (2) the role of gender in the management of ancestral land of pusako tinggi, and (3) its philosophical function. The mobility of Gen Z to study abroad and the practice of relaxed use of ancestral land of pusako tinggi from the mother's family are the causes. This study found that learning of customs occurs informally through daily observations so that there are variations in interpretation between families. To overcome this, this research recommends (1) revitalization of the intrinsic values ​​of inherited customs, (2) formation of indigenous youth communities, (3) codification of customary rules in writing, and (4) tripartite synergy between the community, Village Head, and Nagari Customary Council (KAN) in the socialization and implementation of customary rules.
Fragmentasi tanah leluhur (pusako tinggi) di Sumatera Barat semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, dengan Generasi Z (Gen Z) sebagai kelompok demografi yang dominan. Fenomena ini berpotensi mengancam keberlanjutan tradisi pewarisan adat apabila Gen Z sebagai penerima warisan tidak memahami tradisi pewarisan tanah pusako tinggi secara komprehensif. Penelitian kualitatif ini mengkaji pengetahuan Gen Z Nagari Lawang tentang pewarisan tanah leluhur pusako tinggi. Pengambilan sampel secara purposive digunakan untuk mengidentifikasi informan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Penelitian ini menemukan bahwa Gen Z Nagari Lawang kurang menyadari (1) cara pewarisan ketika terjadi pupus (punahnya garis keturunan), (2) peran gender dalam pengelolaan tanah leluhur pusako tinggi, dan (3) fungsi filosofisnya. Mobilitas Gen Z untuk sekolah di luar negeri dan praktik kelonggaran pemanfaatan tanah leluhur pusako tinggi dari keluarga ibu menjadi penyebabnya. Penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran adat istiadat terjadi secara informal melalui pengamatan sehari-hari sehingga terjadi variasi penafsiran antar keluarga. Untuk mengatasi hal tersebut penelitian ini menyarankan (1) revitalisasi nilai-nilai hakiki adat istiadat yang diwariskan, (2) pembentukan komunitas pemuda adat, (3) kodifikasi aturan adat secara tertulis, dan (4) sinergi tripartit antara masyarakat, Kepala Desa, dan Dewan Adat Nagari (KAN) dalam sosialisasi dan implementasi aturan adat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-04-09</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/231</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.231</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 39-53</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/231/52</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Bunga Ardimay, Bob Alfiandi</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/236</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Optimalisasi Pajak Progresif sebagai Instrumen Penertiban Tanah Terlantar: Studi Komparatif dan Rekonseptualisasi Kebijakan Pertanahan di Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Renald, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Boer, Muhammad Riyan Kachfi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Idle land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Progressive tax</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Productive land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agraria dan Pertanahan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Following the enactment of Law Number 5 of 1960 concerning Basic Agrarian Principles (UUPA), the unification of land law in Indonesia restored the authority over land to the state and the Indonesian people. However, land tenure inequality persists due to the widespread abandonment of land, while public demand for land as a means of livelihood continues to rise. This study aims to analyze the optimization of land use through a juridical approach based on Government Regulation Number 20 of 2021 concerning the Control of Abandoned Areas and Land, using a comparative study of similar policies in several other countries. The findings reveal that Indonesia’s mechanism for regulating abandoned land has yet to make optimal use of fiscal instruments. In fact, tools such as progressive taxation, incentives, and tax relief based on land value taxation have proven effective in reducing land abandonment in various countries. These fiscal mechanisms serve a dual function: as a regulatory instrument that deters land neglect through economic disincentives and as a budgetary instrument that generates funds for regional development. This study recommends integrating such fiscal mechanisms into the provisions of Government Regulation Number 20 of 2021 as a preventive measure before the implementation of sanctions such as the revocation of rights and state repossession.
Pascalahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), unifikasi hukum pertanahan telah mengembalikan penguasaan tanah kepada negara dan bangsa Indonesia. Namun, ketimpangan penguasaan tanah masih terjadi akibat banyaknya tanah yang ditelantarkan, sementara kebutuhan masyarakat akan tanah sebagai sumber penghidupan terus meningkat. Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi pemanfaatan lahan melalui pendekatan yuridis berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2021 tentang Penertiban Kawasan dan Tanah Telantar, dengan studi komparatif terhadap kebijakan serupa di beberapa negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penertiban tanah telantar di Indonesia belum memanfaatkan instrumen fiskal secara optimal, padahal instrumen seperti pengenaan pajak progresif, pemberian insentif, dan relaksasi pajak berbasis Land Value Taxation telah terbukti efektif menekan penelantaran tanah di berbagai negara. Mekanisme pajak ini berfungsi ganda: sebagai instrumen regulerend yang memberikan efek jera bagi pemilik tanah, sekaligus sebagai instrumen budgeter yang menghimpun dana untuk pengembangan wilayah. Penelitian ini merekomendasikan integrasi mekanisme fiskal tersebut dengan ketentuan dalam PP Nomor 20 Tahun 2021 sebagai langkah preventif sebelum penerapan sanksi penghapusan hak dan penguasaan oleh negara.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-04-09</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/236</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.236</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/236/50</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Andi Renald, Muhammad Riyan Kachfi Boer</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/238</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kolaborasi dan Sinergitas Multipihak dalam Pengamanan Aset Bendungan Pandan Duri di Kabupaten Lombok Timur Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Shivam Vivekananda, Gipih</dc:creator>
	<dc:creator>Yaqutun Nafis, Attin</dc:creator>
	<dc:creator> Sabitha, Alifa</dc:creator>
	<dc:creator>Aji Saputra, Muhamad</dc:creator>
	<dc:creator>Agustian Putra, Ilham</dc:creator>
	<dc:creator>Taufikurrahman, Taufikurrahman</dc:creator>
	<dc:creator>Kusmiarto, Kusmiarto</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Local government assets</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">overlapping land</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">PTSL</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">spatial analysis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">tetra helix</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land management</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The Pandan Duri Dam in East Lombok Regency, a local government strategic asset, has residential settlement concerns due to ambiguous boundary delineations.  The Complete Systematic Land Registration Program (PTSL) may cause overlapping land ownership claims.  This study evaluates PTSL measures to protect local government assets and multi-stakeholder collaboration to resolve Pandan Duri Dam asset disputes.  The mixed-methods research combines geographical analysis—using the 2024 PTSL parcel map, 2009 Google Earth imagery, 2024 UAV data, and the local government asset map—with qualitative interviews and field surveys with key officials.  Secondary data included policy texts and spatial archives, while primary data came from 15 important informants.  The survey found that locals occupied 14.3 hectares (3.2%) of the 448-hectare government asset area.  PTSL has 1,104 registered land parcels, 149 of which overlap with the government asset, and 228 of 550 registration applications were refused owing to their buffer zone location.  Government, academia, business, media, and community participation has improved mapping accuracy and policy transparency.  This paper advocates GIS-based spatial analysis, cross-sectoral collaboration, and evidence-based policies to preserve regional assets.  To avoid land disputes, the government should improve integrated monitoring systems and define asset borders.
Pengamanan aset pemerintah daerah menjadi prioritas dalam Program PTSL, yang tidak hanya memberikan kepastian hukum tetapi juga mencegah sengketa dan penguasaan ilegal. Bendungan Pandan Duri merupakan salah satu bentuk aset pemerintah daerah, namun kenyataannya tidak terdapat batas kawasan bendungan di lapangan yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang tinggal di sekitar bendungan mendaftarkan tanah mereka ke dalam program PTSL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memetakan bidang-bidang tanah masyarakat yang terindikasi masuk ke dalam aset Pemerintah Daerah dalam kegiatan PTSL di kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini menggunakan data peta situasi pengadaan tanah bendungan pandan duri tahun 1996 yang belum terdigitalisasi, Peta Dasar UAV PTSL 2024, Citra Google earth 2009, dan bidang tanah hasil pengukuran satgas fisik PTSL. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial dengan overlay data spasial sesuai lokasi aslinya dan survei lapangan untuk meninjau batas fisik bidang tanah. Hasil penelitian di Kantor Pertanahan Lombok Timur menunjukkan 149 bidang tanah seluas 145.022 m² mengalami tumpang tindih dengan aset pemerintah. Kemudian dari 550 berkas permohonan PTSL yang masuk, sebanyak 228 berkas dikembalikan ke Kantor Desa karena tumpang tindih dengan aset pemda dan berada pada area yang berdekatan. Akhirnya, 322 berkas dinyatakan lolos pemeriksaan dan siap diproses untuk sertifikasi melalui program PTSL.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/238</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.238</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 54-72</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/238/54</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Gipih Shivam Vivekananda, Attin Yaqutun Nafis, Alifa  Sabitha, Muhamad Aji Saputra, Ilham Agustian Putra, Taufikurrahman Taufikurrahman, Kusmiarto Kusmiarto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/239</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Penerapan Program Konsolidasi Tanah terhadap Perkembangan Kawasan Permukiman Peri-Urban di Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman</dc:title>
	<dc:creator>Sugiasih, Sugiasih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Consolidation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Peri Urban Areas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Settlements</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Comparison</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Spatial Planning</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Konsolidasi Tanah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Peri Urban</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kawasan Permukiman</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Studi Perbandingan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Spatial Planning</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The expansion of Yogyakarta City has extended beyond its administrative boundaries, leading to increasingly dense and irregular residential development in peri-urban areas. This unplanned growth presents challenges in settlement organization and infrastructure provision. This study aims to analyze the role and effectiveness of land consolidation as a planning instrument to improve the structure of residential areas in peri-urban Yogyakarta. A desk research method was applied, utilizing secondary data sourced from scientific journals, official reports, Google Earth imagery, and BHUMI.atrbpn interactive maps. The analysis compares two residential areas with similar initial conditions—former rice fields with scattered housing—one of which implemented land consolidation, while the other did not. The findings indicate significant differences in spatial development patterns. In areas with land consolidation, residential plots are systematically arranged, and each has access to a road network, enabling more organized growth. In contrast, areas without land consolidation exhibit irregular, clustered development primarily along main roads, with limited internal access. These results suggest that land consolidation contributes positively to residential planning by ensuring orderly land parceling and improved infrastructure access. The study concludes that land consolidation is an effective tool for guiding spatial development in peri-urban settlements.
 
Perluasan Kota Yogyakarta telah melampaui batas administratifnya, yang menyebabkan semakin padatnya dan tidak teraturnya pembangunan permukiman di kawasan pinggiran kota (peri-urban). Pertumbuhan yang tidak terencana ini menimbulkan tantangan dalam penataan permukiman dan penyediaan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan efektivitas konsolidasi lahan sebagai instrumen perencanaan untuk memperbaiki struktur kawasan permukiman di kawasan pinggiran kota Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode desk research dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari jurnal ilmiah, laporan resmi, citra Google Earth, dan peta interaktif BHUMI.atrbpn. Analisis ini membandingkan dua kawasan permukiman dengan kondisi awal yang serupa—bekas persawahan dengan perumahan yang tersebar—salah satunya menerapkan konsolidasi lahan, sedangkan yang lainnya tidak. Temuan penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam pola pengembangan spasial. Di kawasan dengan konsolidasi lahan, petak permukiman tersusun secara sistematis, dan masing-masing memiliki akses ke jaringan jalan, sehingga memungkinkan pertumbuhan yang lebih teratur. Sebaliknya, kawasan tanpa konsolidasi lahan menunjukkan pembangunan yang tidak teratur dan berkelompok terutama di sepanjang jalan utama, dengan akses internal yang terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa konsolidasi lahan meningkatkan desain perumahan dengan mengatur pembagian lahan dan akses infrastruktur. Studi ini menemukan bahwa konsolidasi lahan membantu permukiman pinggiran kota berkembang secara spasial.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-05-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/239</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.239</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 87-104</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/239/56</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Sugiasih Sugiasih</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/241</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:54Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Kepuasan Pengguna Aplikasi Bhumi Kementerian Agraria dan Tata Ruang Dengan Pendekatan Model End-User Computing Satisfaction</dc:title>
	<dc:creator>Adinegoro, Kurnia Rheza Randy</dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Arief Seno</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bhumi ATR/BPN</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">End-User Computing Satisfaction</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kementerian ATR/BPN</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kepuasan Pengguna</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Layanan Geospasial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land management</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The Bhumi ATR/BPN application was developed as an interactive geospatial information system to support the digital transformation of public services at the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN). This study aims to analyze user satisfaction with the Bhumi application using the End-User Computing Satisfaction (EUCS) model, which includes five dimensions: content, accuracy, format, ease of use, and timeliness. A quantitative approach was applied through the distribution of questionnaires to 427 users. Regression analysis revealed that content (β=0.237), accuracy (β=0.181), and ease of use (β=0.292) significantly influenced user satisfaction (p&amp;lt;0.01), while format and timeliness did not show significant effects. Collectively, the five variables explained 46% of the variance in user satisfaction (R²=0.460). The limitation of this study lies in the use of purposive and convenience sampling methods, which tend to represent active users with reliable digital access. The findings provide important recommendations for the development of public sector information systems, particularly in improving the quality of content, data accuracy, and user-friendliness of the Bhumi ATR/BPN application.
Aplikasi Bhumi ATR/BPN dikembangkan sebagai sistem informasi geospasial interaktif untuk mendukung transformasi digital layanan publik Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan pengguna aplikasi Bhumi dengan menggunakan model End-User Computing Satisfaction (EUCS) yang mencakup lima dimensi: konten, akurasi, format, kemudahan penggunaan, dan ketepatan waktu. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui penyebaran kuesioner terhadap 427 pengguna. Analisis regresi menunjukkan bahwa konten (β=0,237), akurasi (β=0,181), dan kemudahan penggunaan (β=0,292) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna (p&amp;lt;0,01), sedangkan format dan ketepatan waktu tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Kelima variabel secara simultan menjelaskan 46% variansi kepuasan pengguna (R²=0,460). Batasan penelitian ini terletak pada metode pengambilan sampel secara purposive dan convenience sampling, yang cenderung merepresentasikan pengguna aktif dengan akses digital yang baik. Hasil penelitian ini memberikan masukan bagi pengembangan sistem informasi sektor publik, terutama dalam peningkatan kualitas konten, keakuratan data, dan kemudahan penggunaan Bhumi Kementerian ATR/BPN.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/241</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i2.241</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi; 105-125</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/241/57</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Kurnia Rheza Randy Adinegoro, Arief Seno Nugroho</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/242</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:42Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Dinamika Perkembangan Penggunaan Lahan Permukiman di Kecamatan Ngemplak antara Tahun 2014 dan 2024</dc:title>
	<dc:creator>Adiwibowo, Nadifa Aulia Putri</dc:creator>
	<dc:creator>Muta’ali, Luthfi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Regional Development</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Use Dynamics</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Residential Areas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Conversion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land Use Change</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This study identifies the dynamics of residential land use development in Ngemplak District, Sleman Regency, as a new residential growth center strategically located close to the access road leading to Yogyakarta City between 2014 and 2024. The rapid population growth has driven the increased demand for housing, resulting in significant changes in land use. The study employed spatial analysis methods using overlay techniques, with data obtained through image interpretation. The results show that the residential area expanded from 361,71 hectares (9,90% of the total area) in 2014 to 442,19 hectares (12,10%) in 2024. This development was accompanied by a reduction in the number of residential blocks, indicating the consolidation of larger and more integrated residential areas. The distribution pattern of settlements remains clustered, with expansion following existing residential areas. Land conversion from non-residential areas, such as rice fields, drylands, and yards, also occurred. However, the average residential area per household still meets the minimum space requirements. These findings can serve as a reference in spatial planning and more sustainable environmental management. Based on the findings, the study recommends the establishment of land conversion control zones to protect agricultural land and green open spaces, preventing negative impacts on food security and ecology.
Penelitian ini mengidentifikasi dinamika perkembangan penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, sebagai wilayah pusat pertumbuhan permukiman baru yang lokasinya strategis karena berada dekat dengan akses menuju Kota Yogyakarta antara tahun 2014 dan 2024. Pertumbuhan penduduk yang pesat mendorong peningkatan kebutuhan hunian, menyebabkan perubahan signifikan pada penggunaan lahan. Penelitian menggunakan metode analisis spasial dengan teknik overlay, dimana datanya diperoleh melalui interpretasi citra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas permukiman meningkat dari 361,71 hektar (9,90%) dari total wilayah) pada 2014 menjadi 442,19 hektar (12,10%) pada 2024. Perkembangan ini disertai dengan pengurangan jumlah blok permukiman, menunjukkan penggabungan kawasan permukiman yang lebih besar dan terkonsolidasi. Pola persebaran permukiman tetap mengelompok, dengan pertambahan yang mengikuti area permukiman eksisting. Konversi lahan non-permukiman, seperti sawah, tegalan, dan pekarangan, juga terjadi. Meskipun demikian, luas hunian per rumah tangga masih memenuhi standar minimum kebutuhan ruang. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah perlunya dilakukan penetapan zona pengendalian konversi lahan untuk menjaga lahan pertanian dan ruang terbuka hijau agar mencegah dampak negatif pada ketahanan pangan dan ekologi. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-05-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/242</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i1.242</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 1 (2025): Widya Bhumi; 73-86</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/242/55</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Nadifa Aulia Putri Adiwibowo, Luthfi Muta’ali</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/246</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:54Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Mewujudkan Ketahanan Pangan Lokal dengan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah </dc:title>
	<dc:creator>Purwandari, Sisca Putri</dc:creator>
	<dc:creator>Martanto, Rochmat</dc:creator>
	<dc:creator>Sapardiyono, Sapardiyono</dc:creator>
	<dc:creator>Alfons, Alfons</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alih fungsi lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lahan Sawah yang Dilindungi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ketahanan pangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Strategi pengendalian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reforma Agraria</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The rate of conversion of agricultural land to non-agricultural uses in Kaliwates District, Jember Regency, is increasing along with population growth, urbanization, and economic development—threatening the sustainability of local food security. This study aims to (1) analyze the suitability of Protected Rice Fields (LSD) with actual land use, (2) identify the factors causing land use conversion, and (3) formulate control strategies through LSD policies. The data used includes LSD maps, 2023 land use maps, population density data, LSD areas, and land production. The analysis method consists of spatial overlay to measure the level of land use suitability and multiple linear regression to test the influence of variables causing land use conversion. The results show that 73.44% of the LSD area is suitable for land use, while 26.57% is not. The variables of LSD area and land production have a significant effect on the tendency of land use conversion, while population density does not show a significant effect in the tested model. Based on these findings, a control strategy was formulated that includes evaluation of LSD policies, optimization of spatial planning, intensification of production on still productive land, economic incentives to maintain agricultural functions, synchronization of sectoral databases, and strengthening of cross-agency coordination. These findings are expected to be a reference for formulating more effective policies for maintaining sustainable food agricultural land in areas with high urbanization pressures.
Laju alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perkembangan ekonomi—mengancam keberlanjutan ketahanan pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kesesuaian Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dengan penggunaan lahan aktual, (2) mengidentifikasi faktor penyebab alih fungsi lahan, dan (3) merumuskan strategi pengendalian melalui kebijakan LSD. Data yang digunakan meliputi peta LSD, peta penggunaan lahan tahun 2023, data kepadatan penduduk, luas LSD, dan produksi lahan. Metode analisis terdiri dari overlay spasial untuk mengukur tingkat kesesuaian penggunaan lahan dan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel penyebab alih fungsi. Hasil menunjukkan bahwa 73,44% luas LSD sesuai dengan penggunaan lahan, sedangkan 26,57% tidak sesuai. Variabel luas LSD dan produksi lahan berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan alih fungsi lahan, sedangkan kepadatan penduduk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam model yang diuji. Berdasarkan temuan tersebut dirumuskan strategi pengendalian yang mencakup evaluasi kebijakan LSD, optimalisasi tata ruang, intensifikasi produksi pada lahan yang masih produktif, insentif ekonomi untuk mempertahankan fungsi pertanian, sinkronisasi basis data sektoral, serta penguatan koordinasi lintas instansi.Temuan ini diharapkan menjadi acuan perumusan kebijakan yang lebih efektif dalam mempertahankan lahan pertanian pangan berkelanjutan di daerah dengan tekanan urbanisasi tinggi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/246</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i2.246</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi; 168-186</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/246/58</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Sisca Putri Purwandari, Rochmat Martanto, Sapardiyono Sapardiyono, Alfons Alfons</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/247</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:54Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Penerapan SAM-Geo untuk Delineasi Otomatis Batas Bidang Tanah Pertanian pada Ortofoto</dc:title>
	<dc:creator>Aristalindra, Fauzia</dc:creator>
	<dc:creator>Basith, Abdul</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">SAM-Geo</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ortofoto</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Batas bidang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Metrik berbasis area</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Metrik berbasis batas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">penginderaan jauh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Accurate data on agricultural parcel boundaries are essential to support efficient and equitable agrarian management. Conventional methods such as terrestrial surveys and manual digitization are often costly, time-consuming, and inconsistent. Advances in artificial intelligence-based segmentation models, particularly the Segment Anything Model for Geospatial (SAM-Geo), offer new opportunities to accelerate the automatic delineation of agricultural land parcels. This study aims to evaluate the performance of SAM-Geo in extracting agricultural parcel boundaries from 3.98 cm resolution orthophotos in Sumberrahayu Village, Moyudan Subdistrict, Sleman Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia. The research process includes orthophoto preprocessing, SAM-Geo implementation, mask filtering, and accuracy assessment using both area-based metrics (precision, recall, F1-score, and IoU) and boundary-based metrics (boundary precision, recall, and F1-score) with a 1 m buffer tolerance. The results indicate that SAM-Geo can produce highly precise boundary delineation in homogeneous areas, achieving F1-score and IoU values above 96%, while performance declines in heterogeneous areas due to complex land cover conditions. Overall, this study provides one of the first empirical evaluations of SAM-Geo in agricultural landscapes in Indonesia and highlights its potential as an effective approach for agricultural parcel boundary mapping.
Ketersediaan data batas bidang tanah pertanian yang akurat menjadi prasyarat penting dalam mendukung pengelolaan agraria yang efisien dan berkeadilan. Metode konvensional seperti survei terestris dan digitasi manual seringkali memerlukan biaya tinggi, waktu lama, serta menghasilkan ketidakkonsistenan data. Perkembangan model segmentasi berbasis kecerdasan buatan, khususnya Segment Anything Model for Geospatial (SAM-Geo), membuka peluang baru untuk mempercepat delineasi batas bidang tanah pertanian secara otomatis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja SAM-Geo dalam mengekstraksi batas bidang pertanian dari ortofoto beresolusi 3,98 cm di Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Metode penelitian mencakup pra-pemrosesan ortofoto, penerapan SAM-Geo, mask filtering, serta evaluasi akurasi menggunakan metrik berbasis area (precision, recall, F1-score, and IoU) dan berbasis batas (boundary precision, recall, and F1-score) dengan toleransi buffer 1 m. Hasil penelitian menunjukkan SAM-Geo menghasilkan delineasi batas sangat presisi pada area homogen dengan F1-score dan IoU di atas 96%, sedangkan performa menurun pada area heterogen akibat kompleksitas tutupan lahan. Temuan ini menegaskan potensi SAM-Geo sebagai pendekatan efektif untuk pemetaan batas bidang pertanian di Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/247</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i2.247</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi; 126-144</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/247/59</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Fauzia Aristalindra, Abdul Basith</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/249</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:54Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Dinamika Perubahan Tutupan Lahan dan Tantangan Kebijakan Tata Ruang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Nurhadi, Rofi</dc:creator>
	<dc:creator>Suhattanto, Muh. Arif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tutupan Lahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Google Earth Engine</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pembelajaran mesin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Wonogiri</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">land use</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Land cover changes in Wonogiri Regency are closely related to increased urbanization and development in the Subosukowonosraten area, which has an impact on increasing the risk of disasters such as landslides and floods. This study aims to analyze the patterns and trends of land cover changes in 2019, 2022, and 2025 as a basis for evaluating the implementation of the Wonogiri Regency Spatial Plan (RTRW). A spatial quantitative method was used by classifying 10-meter-resolution Sentinel-2 imagery using the Random Forest algorithm through the Google Earth Engine platform. The results of the analysis show a decrease in natural/semi-natural vegetation cover and an increase in residential/mixed land areas, especially in Eromoko, Wonogiri, and Baturetno Districts. Natural/semi-natural vegetation cover decreased from 61.87% (2019) to 60.30% (2025), while residential/mixed buildings increased from 5.40% (2019) to 6.62% (2025). Other cultivated land tends to be stable. This finding indicates the need for regular evaluation of the implementation of the Spatial Planning (RTRW) and spatial use control interventions to reduce disaster risk and maintain the region's ecological function. This study provides multi-temporal empirical evidence based on Sentinel-2 imagery and the Random Forest algorithm in GEE to assess the suitability of the RTRW at the district level and identify priority locations for spatial planning policy revision and mitigation strategies.
Perubahan tutupan lahan di Kabupaten Wonogiri menunjukkan keterkaitan erat dengan peningkatan urbanisasi dan pembangunan kawasan Subosukowonosraten, yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana seperti longsor dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola dan tren perubahan tutupan lahan pada tahun 2019, 2022, dan 2025 sebagai dasar evaluasi terhadap implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Wonogiri. Metode kuantitatif spasial digunakan dengan mengklasifikasikan citra Sentinel-2 beresolusi 10 meter menggunakan algoritma Random Forest melalui platform Google Earth Engine. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan tutupan vegetasi alami/semi-alami dan peningkatan luas lahan permukiman/campuran, terutama di Kecamatan Eromoko, Wonogiri, dan Baturetno. Tutupan vegetasi alami/semi-alami menurun dari 61,87% (2019) menjadi 60,30% (2025), sementara bangunan permukiman/campuran meningkat dari 5,40% (2019) menjadi 6,62% (2025). Lahan tanaman budidaya lainnya cenderung stabil. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi berkala terhadap pelaksanaan RTRW serta intervensi pengendalian pemanfaatan ruang guna mengurangi risiko bencana dan menjaga fungsi ekologis wilayah. Studi ini memberikan bukti empiris multi-temporal berbasis citra Sentinel-2 dan algoritma Random Forest di GEE untuk menilai kesesuaian RTRW di tingkat kabupaten, serta mengidentifikasi lokasi prioritas bagi revisi kebijakan tata ruang dan strategi mitigasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/249</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i2.249</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi; 145-167</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/249/60</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Rofi Nurhadi, Muh. Arif Suhattanto</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id:article/250</identifier>
				<datestamp>2025-10-29T07:37:54Z</datestamp>
				<setSpec>JWB:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Evaluasi Aplikasi Pemantauan Berkas untuk Modernisasi Layanan dan Penerbitan Dokumen Elektronik di Bidang Pertanahan</dc:title>
	<dc:creator>Az-zahra, Salsabilla</dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Tanjung</dc:creator>
	<dc:creator>Arnanto, Ardhi</dc:creator>
	<dc:creator>Wahyuni, Wahyuni</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Monitoring Berkas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kinerja</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alih Media</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sertipikat Hak Atas Tanah Elektronik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Land administration arrangements</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The digital transformation of land services still faces challenges, such as weak file monitoring, lost documents, and the accumulation of backlogs among officers. This study aims to evaluate the SIAMEL (Electronic Media Transfer System) application for modernizing services and issuing electronic documents in the land sector. This study used a mixed-methods approach with primary and secondary data collection. Qualitative data were obtained through structured interviews, participant observation, and document studies, while quantitative data were collected through a questionnaire-based survey and SIAMEL application performance testing using Webpage Test. Analysis was conducted descriptively and experimentally to evaluate SIAMEL's effectiveness in improving the accuracy, efficiency, and transparency of land services. The results indicated that SIAMEL improves operational transparency and accountability through digital audit trails, real-time searches, and a backlog dashboard that generates objective metrics (work volume, average completion time, and backlog level per officer). Technical evidence supports operational feasibility through very fast server response (TTFB = 0.123 s), maintained interface stability (CLS/TBT ≈ 0), and high bandwidth efficiency (page weight decreased ≈ 98.9% on repeat view). In conclusion, SIAMEL has been proven to be effective in supporting the modernization of land services through document digitization. This study emphasizes the importance of adopting file monitoring systems in other government agencies as a strategic step in creating good public services.
Keywords: File Monitoring, Performance, Media Transfer, Electronic Land Certificates
 
Transformasi digital layanan pertanahan masih menghadapi tantangan, seperti lemahnya pengawasan perjalanan berkas, kehilangan dokumen, dan akumulasi tunggakan berkas pekerjaan antar petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aplikasi SIAMEL (Sistem Alih Media Elektronik) untuk modernisasi layanan dan penerbitan dokumen elektronik di bidang pertanahan. Penelitian ini menggunakan mixed-methods dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi partisipatif, dan studi dokumen, sedangkan data kuantitatif dikumpulkan melalui survei berbasis kuesioner dan pengujian performa aplikasi SIAMEL menggunakan WebPageTest. Analisis dilakukan secara deskriptif dan eksperimental untuk mengevaluasi efektivitas SIAMEL dalam meningkatkan akurasi, efisiensi, dan transparansi layanan pertanahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIAMEL meningkatkan transparansi dan akuntabilitas operasional melalui audit-trail digital, pencarian real-time, serta dashboard klasemen tunggakan yang menghasilkan metrik objektif (volume kerja, waktu penyelesaian rata-rata, tingkat tunggakan per petugas). Bukti teknis mendukung kelayakan operasional melalui respons server sangat cepat (TTFB = 0,123 s), stabilitas antarmuka terjaga (CLS/TBT ≈ 0), dan efisiensi bandwidth tinggi (page weight turun ≈ 98,9% pada repeat view). Kesimpulannya, SIAMEL terbukti efektif mendukung modernisasi layanan pertanahan melalui digitalisasi dokumen. Penelitian ini menekankan pentingnya adopsi sistem pemantauan berkas di instansi pemerintah lain sebagai langkah strategis terciptanya pelayanan publik yang baik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional</dc:publisher>
	<dc:date>2025-10-10</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/250</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.31292/wb.v5i2.250</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Widya Bhumi; Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi; 187-205</dc:source>
	<dc:source>2797-765X</dc:source>
	<dc:source>1412-7318</dc:source>
	<dc:source>10.31292/wb.v5i2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://jurnalwidyabhumi.stpn.ac.id/index.php/JWB/article/view/250/61</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Salsabilla Az-zahra, Tanjung Nugroho, Ardhi Arnanto, Wahyuni Wahyuni</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
